Malam hari, Anda menghitung uang laci: Rp 1.850.000. Lalu buka aplikasi bank: masuk dari QRIS hari ini Rp 960.000, ada juga transfer dari pelanggan langganan Rp 350.000. Siang tadi Anda sempat setor Rp 1 juta dari laci ke ATM, dan pagi-pagi membayar sales minyak goreng lewat transfer. Totalnya harus berapa? Cocok atau kurang? Kalau semua angka itu dicampur dalam satu kepala, jawabannya hampir selalu "kira-kira sudah benar".
Solusinya adalah memisahkan kas usaha berdasarkan tempat uang itu berada: laci, saldo QRIS, dan rekening bank. Masing-masing diperlakukan seperti dompet sendiri dengan saldonya sendiri.
Singkatnya: anggap laci, QRIS, dan rekening bank sebagai tiga dompet terpisah. Setiap uang masuk dicatat ke dompet tempat uang itu benar-benar mendarat, setiap pembayaran dicatat dari dompet yang dipakai, dan setiap perpindahan uang (misalnya setor tunai ke bank) dicatat sebagai transfer antardompet. Hasilnya, tiap dompet bisa dicocokkan sendiri-sendiri.
Kenapa uang yang tersebar sulit dicek
Dulu warung hanya punya laci. Sekarang pembeli bisa bayar tunai, scan QRIS, atau transfer. Pembayaran ke sales juga bercampur: ada yang tunai dari laci, ada yang transfer. Kalau semuanya hanya dicatat sebagai "penjualan hari ini" dan "pengeluaran hari ini", Anda tidak bisa menjawab pertanyaan sederhana: uang laci seharusnya berapa?
Akibatnya, selisih kecil tidak pernah ketahuan. Rp 50 ribu kurang di laci bisa tertutup oleh QRIS yang lebih banyak, dan sebaliknya. Masalah baru terasa ketika bulan berakhir dan uang untuk kulakan ternyata kurang.
Konsep dompet terpisah untuk kas usaha
Bayangkan Anda punya tiga kantong:
- Dompet Laci: uang tunai fisik di meja kasir.
- Dompet QRIS: saldo yang masuk dari pembayaran QRIS (di rekening atau akun merchant yang terhubung dengan QRIS Anda).
- Dompet Bank: rekening usaha untuk transfer pelanggan dan pembayaran supplier.
Aturannya hanya tiga:
- Uang masuk dicatat ke dompet tempat ia mendarat. Pembeli bayar QRIS, masuk Dompet QRIS, bukan Laci.
- Uang keluar dicatat dari dompet yang dipakai. Bayar sales dengan transfer, kurangi Dompet Bank.
- Perpindahan uang bukan pengeluaran. Setor tunai Rp 1 juta dari laci ke rekening berarti Laci berkurang Rp 1 juta dan Bank bertambah Rp 1 juta. Total uang usaha tidak berubah. Ini sering salah dicatat; penjelasannya ada di artikel setor tunai ke bank bukan pengeluaran.
Contoh satu hari di toko kelontong
Berikut catatan contoh satu hari, lengkap dengan saldo tiap dompet:
| Kejadian | Laci | QRIS | Bank |
|---|---|---|---|
| Saldo awal pagi | Rp 300.000 | Rp 0 | Rp 2.500.000 |
| Penjualan tunai | +Rp 2.650.000 | ||
| Penjualan QRIS | +Rp 960.000 | ||
| Transfer pelanggan langganan | +Rp 350.000 | ||
| Bayar sales minyak (transfer) | −Rp 1.400.000 | ||
| Beli plastik dan galon (tunai) | −Rp 100.000 | ||
| Setor tunai ke rekening | −Rp 1.000.000 | +Rp 1.000.000 | |
| Saldo seharusnya malam | Rp 1.850.000 | Rp 960.000 | Rp 2.450.000 |
Sekarang pengecekannya mudah. Hitung laci: kalau isinya Rp 1.850.000, cocok. Buka riwayat QRIS: harus Rp 960.000. Cek mutasi rekening: saldo seharusnya Rp 2.450.000. Kalau laci hanya Rp 1.800.000, Anda tahu persis selisih Rp 50 ribu ada di laci, bukan di tempat lain. Langkah berikutnya untuk mencari penyebabnya dibahas di cara mencocokkan QRIS, transfer, dan tunai.
Cara memisahkan saldo secara manual
Tanpa aplikasi pun cara ini bisa jalan. Buat tabel di buku atau Excel dengan kolom seperti contoh di atas: tanggal, keterangan, Laci, QRIS, Bank. Setiap kejadian ditulis di satu baris, dengan tanda plus atau minus di kolom dompet yang terdampak.
- Saat pembeli membayar campuran, misalnya Rp 50.000 tunai dan Rp 27.000 QRIS, tulis dua angka di kolom berbeda. Detailnya ada di pembayaran campuran tunai dan QRIS.
- Jangan pakai rekening pribadi untuk menerima uang usaha kalau bisa dihindari. Kalau terpaksa, catat transfer dari rekening pribadi ke usaha (atau sebaliknya) sebagai perpindahan yang jelas.
- Cocokkan setiap malam, minimal untuk Laci. QRIS dan Bank boleh dicocokkan dua atau tiga hari sekali dari mutasi.
Kelemahannya, cara manual mudah ketinggalan saat toko ramai. Satu transaksi QRIS yang lupa ditulis membuat semua angka sore itu meleset.
Memisahkan kas usaha dengan dompet di KasirPOS
Di aplikasi kasir KasirPOS, konsep ini sudah menjadi bagian dari pencatatan. Laci, QRIS, dan rekening bank masing-masing punya saldo sendiri. Saat kasir memilih metode bayar di layar Bayar, uangnya otomatis tercatat ke dompet yang sesuai, termasuk ketika satu transaksi dibayar campuran tunai dan QRIS.
- Atur dompet yang Anda pakai: laci, QRIS, dan rekening bank usaha.
- Jalankan penjualan seperti biasa; pilih metode bayar yang benar setiap transaksi.
- Catat pengeluaran (misalnya beli galon) dari dompet yang benar-benar dipakai.
- Saat setor tunai ke bank atau menarik uang dari rekening untuk laci, catat sebagai transfer dana antardompet, bukan pengeluaran.
- Malam hari, bandingkan saldo tiap dompet dengan uang fisik dan mutasi bank. Untuk laci, fitur buka dan tutup kasir membantu menghitung selisih.
Laporan penjualan per metode pembayaran dan laporan arus kas bisa diekspor ke Excel atau PDF. Penting diketahui: KasirPOS hanya mencatat metode bayar. Aplikasi ini tidak memproses pembayaran, jadi uang QRIS dan transfer tetap masuk langsung ke rekening atau akun merchant milik toko, dan saldo aslinya tetap Anda cek di aplikasi bank. Penjelasan fitur dompet secara khusus ada di dompet dan transfer dana di KasirPOS.
KasirPOS berjalan di iPhone dan iPad, gratis, dan bisa dipakai tanpa internet. Anda bisa unduh KasirPOS di App Store dan lihat fitur lengkap KasirPOS di situsnya.
Kebiasaan kecil yang membuat saldo selalu cocok
- Modal laci tetap. Mulai setiap hari dengan jumlah uang kembalian yang sama, misalnya Rp 300.000.
- Setor di jam yang sama. Misalnya setiap siang saat laci sudah di atas Rp 1,5 juta. Selain rapi, ini juga mengurangi risiko uang tunai menumpuk.
- Jangan ambil uang laci untuk keperluan rumah tanpa catatan. Kalau perlu, catat sebagai pengambilan pemilik.
- Bayar supplier dari satu dompet utama. Lebih mudah dilacak daripada sebagian tunai, sebagian transfer.
Begitu setiap tempat uang punya saldo sendiri, pertanyaan "uangnya ke mana?" berubah menjadi "selisihnya di dompet mana?", dan pertanyaan kedua jauh lebih mudah dijawab.
Pertanyaan yang sering diajukan
Kenapa saldo laci, QRIS, dan bank perlu dipisah?
Supaya setiap tempat uang bisa dicocokkan sendiri. Jika semua digabung, kekurangan di laci bisa tertutup oleh QRIS yang lebih banyak dan tidak pernah ketahuan.
Setor uang laci ke bank dicatat sebagai apa?
Sebagai transfer atau perpindahan dana. Saldo laci berkurang dan saldo bank bertambah dengan jumlah yang sama, jadi bukan pengeluaran usaha.
Bagaimana mencatat pembeli yang bayar sebagian tunai dan sebagian QRIS?
Catat dua bagian pembayaran itu ke dompet masing-masing: bagian tunai ke laci, bagian QRIS ke dompet QRIS.
Apakah aplikasi kasir menerima uang QRIS?
Tergantung aplikasinya. KasirPOS hanya mencatat metode bayar; uang QRIS dan transfer tetap masuk langsung ke rekening atau akun merchant milik toko.