Blog KasirPOSkasirpos.swift.id

Omzet vs Laba: Beda yang Bikin Banyak Usaha Kecil Salah Hitung

Oleh Ihwan · · 5 menit baca

Warung Anda ramai sejak pagi, laci penuh uang, dan di akhir hari Anda menghitung Rp 2.500.000. Rasanya hari itu untung besar. Tapi akhir bulan, uang untuk kulakan malah kurang dan Anda bingung ke mana perginya. Masalahnya sering sederhana: angka Rp 2.500.000 itu omzet, bukan untung. Memahami perbedaan omzet dan laba adalah langkah pertama supaya Anda tidak salah membaca kondisi usaha sendiri.

Banyak pemilik warung dan toko kelontong menyebut semua uang yang masuk sebagai "pendapatan" lalu menganggapnya hasil kerja. Padahal sebagian besar uang itu harus kembali ke supplier untuk mengganti barang yang sudah terjual.

Singkatnya: Omzet adalah total uang hasil penjualan. Laba kotor adalah omzet dikurangi modal barang yang terjual (HPP). Laba bersih adalah laba kotor dikurangi biaya operasional seperti listrik, sewa, gaji, dan plastik. Keputusan usaha, termasuk berapa yang boleh Anda ambil, harus berdasarkan laba bersih, bukan omzet.

Tiga angka yang sering tertukar

Bayangkan tiga lapisan. Lapisan paling luar adalah omzet, paling dalam adalah laba bersih. Setiap lapisan lebih kecil dari sebelumnya karena ada biaya yang dikupas.

Satu hal penting: omzet besar tidak otomatis berarti laba besar. Toko yang menjual rokok dan beras dengan margin tipis bisa punya omzet tinggi tetapi laba kecil. Sebaliknya, kedai yang omzetnya sedang tapi menjual minuman dengan margin sehat bisa menyisakan laba lebih baik.

Contoh perbedaan omzet dan laba di warung sembako

Mari pakai contoh rekaan Warung Bu Sari dalam satu bulan. Angka di bawah hanya ilustrasi supaya polanya terlihat.

BarisJumlahKeterangan
OmzetRp 45.000.000Total penjualan sebulan
HPP (modal barang terjual)Rp 38.700.000Beras, minyak, gula, rokok, mi instan, dll.
Laba kotorRp 6.300.000Sekitar 14% dari omzet
Listrik & airRp 450.000Termasuk kulkas minuman
Gaji penjaga paruh waktuRp 1.500.000
Plastik, kertas, lain-lainRp 300.000
Bensin kulakanRp 250.000
Laba bersihRp 3.800.000Sekitar 8% dari omzet

Dari omzet Rp 45 juta, yang benar-benar menjadi hasil usaha hanya Rp 3,8 juta. Kalau Bu Sari mengira untungnya "sekitar Rp 1,5 juta per hari" karena melihat isi laci, ia bisa mengambil uang jauh lebih banyak dari yang seharusnya, dan modal kulakan pelan-pelan tergerus.

Kenapa omzet terasa seperti untung

Ada beberapa alasan kenapa pemilik usaha kecil gampang tertipu oleh omzet:

Kalau Anda pernah mengalami uang warung habis tanpa terasa, hampir pasti salah satu dari empat hal ini sedang terjadi.

Cara menghitung dari omzet ke laba bersih

Anda tidak perlu jadi akuntan. Cukup ikuti urutan berikut setiap akhir bulan:

  1. Jumlahkan omzet. Ambil dari catatan penjualan harian, termasuk tunai, QRIS, transfer, dan penjualan kasbon.
  2. Hitung HPP. Untuk setiap barang yang terjual, kalikan jumlahnya dengan harga modal. Kalau sulit per barang, pakai rumus persediaan: stok awal + pembelian − stok akhir. Penjelasan lengkapnya ada di cara menghitung HPP barang dagang.
  3. Kurangi omzet dengan HPP untuk mendapat laba kotor.
  4. Daftar semua biaya operasional bulan itu: listrik, air, sewa, gaji, plastik, bensin, pulsa, iuran kebersihan.
  5. Kurangi laba kotor dengan biaya operasional untuk mendapat laba bersih.

Kalau ingin mendalami langkah 3 dan 5, baca panduan menghitung laba kotor dan menghitung laba bersih dengan contoh bulanan.

Catatan: Uang yang Anda ambil untuk kebutuhan rumah tangga (prive) bukan biaya operasional. Jangan dimasukkan ke daftar biaya, tapi tetap dicatat terpisah supaya Anda tahu berapa laba yang sudah terpakai.

Keputusan yang harus berdasarkan laba bersih

Setelah tahu angkanya, pakai laba bersih untuk keputusan-keputusan ini:

Omzet tetap berguna, misalnya untuk melihat tren ramai-sepi atau target penjualan harian. Tapi omzet menjawab pertanyaan "seberapa sibuk", sedangkan laba bersih menjawab "seberapa menghasilkan".

Melihat omzet dan laba tanpa hitung manual

Cara manual dengan buku atau Excel tetap bisa, asalkan setiap penjualan dan setiap biaya tercatat. Tantangannya ada di HPP: Anda harus tahu harga modal setiap barang yang terjual, dan harga modal sering berubah setiap kulakan.

Di sinilah aplikasi kasir membantu. Aplikasi kasir KasirPOS untuk iPhone dan iPad mencatat harga modal setiap produk, jadi saat transaksi terjadi, laporan langsung bisa menampilkan omzet, laba kotor, dan laba bersih harian, mingguan, atau bulanan lengkap dengan grafik. Biaya operasional seperti listrik dan gaji dicatat sebagai pengeluaran lain, sehingga laba bersih ikut terhitung. Saat Anda mencatat pembelian dari supplier, harga modal rata-rata diperbarui otomatis.

Beberapa hal yang bisa langsung Anda lihat:

Semua fitur itu gratis, tanpa langganan dan tanpa iklan, dan berjalan tanpa internet. Anda bisa unduh KasirPOS di App Store lalu mencoba memasukkan beberapa produk dengan harga modalnya. Penjelasan fitur lainnya ada di halaman fitur lengkap KasirPOS.

Kalau Anda belum siap memakai aplikasi, mulai saja dari satu kebiasaan: setiap akhir bulan, tulis tiga angka (omzet, laba kotor, laba bersih) di satu halaman buku. Setelah tiga bulan, Anda akan punya gambaran yang jauh lebih jujur tentang usaha Anda dibanding sekadar menghitung isi laci.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa perbedaan omzet dan laba?

Omzet adalah total uang hasil penjualan sebelum dikurangi biaya apa pun. Laba adalah sisa setelah omzet dikurangi modal barang (laba kotor) dan biaya operasional (laba bersih).

Apakah omzet sama dengan pendapatan?

Dalam percakapan sehari-hari, omzet sering disebut pendapatan atau penjualan. Yang penting, omzet belum dikurangi modal barang dan biaya, jadi bukan untung.

Kenapa omzet besar tapi untung kecil?

Biasanya karena margin barang tipis, biaya operasional besar, atau banyak penjualan kasbon yang belum dibayar. Hitung laba kotor dan laba bersih untuk melihat penyebabnya.

Uang yang boleh diambil pemilik dihitung dari omzet atau laba?

Dari laba bersih. Mengambil uang berdasarkan omzet akan memakan modal kulakan.