Blog KasirPOSkasirpos.swift.id

Berapa Keuntungan Warung Sembako per Bulan? Cara Menghitungnya

Oleh Ihwan · · 6 menit baca

Warung buka dari subuh sampai malam, pembeli datang terus, tapi di akhir bulan uang di tangan rasanya tidak bertambah. Lalu Anda mencari di internet "keuntungan warung sembako per bulan" dan menemukan angka yang terdengar meyakinkan: Rp 5 juta, Rp 10 juta, bahkan lebih. Angka itu membuat Anda bertanya-tanya, apakah warung Anda yang salah urus?

Jawabannya: angka rata-rata itu hampir tidak berguna untuk warung Anda. Lokasi, jenis barang, harga beli dari grosir, dan biaya rumah tangga yang ikut terpakai berbeda di setiap warung. Yang Anda butuhkan adalah cara menghitung untung warung Anda sendiri, dan itu bisa dilakukan dengan data sederhana.

Singkatnya: keuntungan bulanan warung sembako = omzet × margin campuran − biaya operasional − barang rusak/hilang. Margin tiap barang berbeda jauh (beras dan minyak tipis, jajanan dan bumbu lebih tebal), jadi hitung per kelompok barang, bukan pakai satu persen untuk semua. Catat penjualan per barang selama sebulan, lalu angka untung Anda sendiri akan kelihatan.

Kenapa angka "rata-rata" di internet menyesatkan

Dua warung dengan omzet sama bisa punya untung yang sangat berbeda. Bayangkan Warung A dan Warung B sama-sama beromzet Rp 1.500.000 per hari. Warung A sebagian besar menjual beras, minyak goreng, gula, dan telur. Warung B lebih banyak menjual mi instan, jajanan, kopi sachet, dan bumbu dapur. Warung A mungkin hanya menyisakan 6–8% dari omzetnya sebagai laba kotor, sedangkan Warung B bisa 15–20%.

Belum lagi biaya: ada yang menyewa kios, ada yang buka di teras rumah sendiri. Ada yang membayar penjaga, ada yang dijaga sendiri. Itulah sebabnya angka di artikel lain tidak bisa dipakai sebagai patokan. Paling jauh, angka itu hanya gambaran kasar.

Rumus keuntungan warung sembako per bulan

Pakai urutan ini supaya tidak ada yang terlewat:

  1. Omzet bulanan: total uang penjualan, termasuk yang dibayar lewat QRIS atau transfer, dan termasuk kasbon yang belum dibayar.
  2. Laba kotor: omzet dikurangi harga modal barang yang terjual (HPP). Ini bukan omzet dikurangi total belanja ke grosir, karena barang yang Anda beli belum tentu terjual bulan itu.
  3. Biaya operasional: listrik, sewa, kantong plastik, gaji penjaga, pulsa, retribusi, iuran keamanan.
  4. Kerugian barang: barang kedaluwarsa, rusak, atau hilang.
  5. Laba bersih = laba kotor − biaya operasional − kerugian barang.

Kalau istilah omzet dan laba masih sering tertukar, baca dulu penjelasan perbedaan omzet dan laba agar hitungan di bawah lebih mudah diikuti.

Contoh hitungan dengan margin campuran

Berikut contoh rekaan sebuah warung sembako di gang perumahan dengan omzet sekitar Rp 45.000.000 sebulan. Angka margin hanya ilustrasi; margin Anda tergantung harga grosir di daerah Anda.

Kelompok barangOmzet sebulanMargin kotorLaba kotor
Beras, minyak, gula, tepungRp 18.000.0006%Rp 1.080.000
TelurRp 5.000.0008%Rp 400.000
RokokRp 8.000.0005%Rp 400.000
Mi instan, kopi sachet, minumanRp 7.000.00012%Rp 840.000
Bumbu, sabun, kebutuhan rumahRp 4.500.00018%Rp 810.000
Jajanan anakRp 2.500.00022%Rp 550.000
TotalRp 45.000.000±9,1%Rp 4.080.000

Perhatikan: margin campurannya hanya sekitar 9,1%, padahal ada barang dengan margin 22%. Sembako pokok yang mendominasi omzet menarik rata-ratanya turun. Inilah kenapa memakai "margin 20%" untuk semua barang akan membuat Anda merasa jauh lebih untung daripada kenyataannya. Cara menentukan modal tiap barang dibahas di cara menghitung HPP barang dagang.

Lanjutkan dengan biaya bulanan:

BiayaPer bulan
Listrik (kulkas minuman dan lampu)Rp 350.000
Kantong plastik dan karetRp 150.000
Bensin kulakanRp 200.000
Iuran keamanan dan kebersihanRp 50.000
Barang kedaluwarsa/rusakRp 250.000
TotalRp 1.000.000

Laba bersih contoh warung ini: Rp 4.080.000 − Rp 1.000.000 = Rp 3.080.000. Itu sebelum gaji Anda sendiri. Kalau Anda dan pasangan menjaga warung 14 jam sehari, angka ini perlu dibandingkan dengan upah yang wajar untuk tenaga Anda. Soal ini dibahas lebih lanjut di gaji untuk pemilik usaha.

Kebocoran yang membuat untung tidak terasa

Banyak pemilik warung sudah untung di atas kertas, tapi uangnya tidak pernah terkumpul. Biasanya karena salah satu hal ini:

Catatan: laba bersih dan uang tunai yang tersisa adalah dua hal berbeda. Warung bisa untung Rp 3 juta sebulan tetapi uang tunainya berkurang karena stok bertambah atau kasbon belum tertagih.

Cara mendapatkan angka Anda sendiri tanpa repot

Metode manual (buku atau Excel)

  1. Tulis daftar barang beserta harga modal dan harga jual. Mulai dari 30 barang paling laku saja.
  2. Setiap malam, catat total penjualan per kelompok barang. Kalau tidak sempat per barang, minimal per kelompok seperti tabel di atas.
  3. Catat setiap barang yang diambil untuk rumah dengan harga modalnya.
  4. Di akhir bulan, jumlahkan, kalikan dengan margin tiap kelompok, lalu kurangi biaya.

Cara ini melelahkan, tapi satu bulan pencatatan yang jujur sudah jauh lebih berguna daripada membaca sepuluh artikel tentang rata-rata keuntungan.

Dengan aplikasi kasir di iPhone atau iPad

Kalau Anda memakai iPhone atau iPad, aplikasi kasir KasirPOS bisa melakukan sebagian besar hitungan ini secara otomatis. Begitu harga modal dan harga jual diisi, setiap penjualan langsung menghitung laba kotor. Laporannya menampilkan omzet, laba kotor, dan laba bersih harian, mingguan, maupun bulanan, lengkap dengan margin per produk. Biaya seperti listrik dan plastik dicatat sebagai pengeluaran lain, sehingga laporan laba rugi sudah memperhitungkannya.

Beberapa hal yang langsung terasa membantu:

Semua fitur itu gratis, tanpa langganan dan tanpa perlu internet. Namun aplikasi ini hanya untuk iPhone dan iPad dan dipakai untuk satu meja kasir. Kalau warung Anda memakai HP Android, metode buku atau Excel di atas tetap bisa memberi angka yang sama, hanya butuh waktu lebih lama.

Setelah tahu angkanya, lalu apa?

Begitu angka laba bersih Anda sendiri sudah kelihatan, keputusan jadi lebih jelas. Kalau margin campuran terlalu tipis, coba tambah porsi barang bermargin lebih tebal seperti bumbu dan kebutuhan rumah tangga. Kalau biaya terlalu besar, lihat mana yang bisa ditekan. Kalau laba bagus tapi uang tidak pernah ada, masalahnya ada di kebocoran, bukan di penjualan.

Mulailah bulan ini. Pilih cara yang paling mungkin Anda jalani setiap hari, entah buku tulis, Excel, atau aplikasi kasir gratis untuk iPhone dan iPad. Jika ingin mencoba yang terakhir, Anda bisa unduh KasirPOS di App Store dan mulai dari daftar barang paling laku.

Pertanyaan yang sering diajukan

Berapa keuntungan rata-rata warung sembako per bulan?

Tidak ada angka rata-rata yang bisa dipakai untuk semua warung karena lokasi, jenis barang, dan biaya berbeda. Cara paling akurat adalah menghitung omzet dikali margin campuran warung Anda sendiri, lalu dikurangi biaya operasional.

Berapa persen margin jualan sembako?

Barang pokok seperti beras, minyak, dan gula biasanya bermargin tipis, sedangkan bumbu, sabun, dan jajanan bisa lebih tebal. Margin campuran warung yang didominasi sembako pokok sering hanya satu digit persen, jadi hitung per kelompok barang.

Kenapa warung ramai tapi uangnya tidak terkumpul?

Biasanya karena barang diambil untuk dapur sendiri tanpa dicatat, uang laci dipakai belanja rumah, kasbon menumpuk, atau untung dibelikan stok tambahan. Laba bisa ada di atas kertas, tapi uangnya tersebar di tempat lain.

Apakah omzet dikurangi belanja ke grosir sama dengan untung?

Tidak. Untung dihitung dari harga modal barang yang benar-benar terjual, bukan dari total belanja, karena barang yang dibeli belum tentu laku di bulan yang sama.