Anda menetapkan aturan sederhana: semua barang dijual modal ditambah 30%. Lalu di akhir bulan, laporan menunjukkan margin hanya sekitar 23%. Apakah ada uang yang hilang? Belum tentu. Yang terjadi kemungkinan besar adalah dua istilah yang tertukar: margin dan markup. Keduanya sama-sama dalam persen, sama-sama bicara untung, tapi dihitung dari dasar yang berbeda.
Singkatnya: Markup dihitung dari harga modal, margin dihitung dari harga jual. Markup 30% hanya menghasilkan margin sekitar 23%. Kalau ingin margin 30%, markup-nya harus sekitar 43%. Pilih satu istilah dan pakai secara konsisten saat menentukan harga, memberi diskon, dan membaca laporan.
Beda margin dan markup dalam satu contoh
Ambil satu sachet kopi dari renceng. Modal per sachet Rp 1.000, dijual Rp 1.300. Untung per sachet Rp 300.
- Markup = untung ÷ modal = 300 ÷ 1.000 = 30%
- Margin = untung ÷ harga jual = 300 ÷ 1.300 = 23,1%
Untungnya sama, Rp 300. Yang beda hanya pembaginya. Markup menjawab "berapa persen saya menaikkan harga dari modal?", sedangkan margin menjawab "berapa persen dari uang yang diterima adalah untung?".
Karena harga jual selalu lebih besar dari modal, margin selalu lebih kecil dari markup untuk barang yang sama. Itulah sebabnya pemilik yang memasang markup 30% kaget melihat laporan margin 23%.
Kenapa perbedaan ini penting untuk toko kecil
Salah paham margin dan markup bisa berakibat nyata:
- Salah menghitung kebutuhan laba. Kalau biaya operasional Anda sekitar 25% dari omzet dan Anda mengira markup 30% berarti "untung 30%", sebenarnya margin Anda hanya 23%. Toko bisa rugi tanpa Anda sadari.
- Diskon terlalu besar. Barang dengan markup 20% hanya punya margin 16,7%. Diskon 20% dari harga jual membuat barang itu dijual di bawah modal.
- Salah paham dengan supplier atau mitra. Supplier yang bilang "margin di barang ini 25%" belum tentu bicara hal yang sama dengan Anda yang biasa memakai markup.
Tabel konversi markup ke margin
Simpan tabel ini di dekat meja kasir atau di catatan HP. Rumus konversinya: margin = markup ÷ (100% + markup), dan markup = margin ÷ (100% − margin).
| Markup (dari modal) | Margin (dari harga jual) | Contoh: modal Rp 10.000 dijual |
|---|---|---|
| 10% | 9,1% | Rp 11.000 |
| 20% | 16,7% | Rp 12.000 |
| 25% | 20% | Rp 12.500 |
| 30% | 23,1% | Rp 13.000 |
| 43% | 30% | Rp 14.300 |
| 50% | 33,3% | Rp 15.000 |
| 67% | 40% | Rp 16.700 |
| 100% | 50% | Rp 20.000 |
| 200% | 66,7% | Rp 30.000 |
Baris terakhir penting untuk kedai minuman: menjual es teh "tiga kali modal" berarti markup 200%, tapi margin 66,7%. Margin tidak akan pernah mencapai 100%, sedangkan markup bisa berapa saja.
Cara memakai margin dan markup saat menentukan harga
Kalau mulai dari target margin
Misalnya Anda ingin setiap barang punya margin 25%. Rumusnya: harga jual = modal ÷ (1 − margin). Untuk minyak goreng 1 liter dengan modal Rp 16.500:
16.500 ÷ (1 − 0,25) = 16.500 ÷ 0,75 = Rp 22.000
Cara ini lebih aman karena margin langsung bisa dibandingkan dengan biaya operasional yang juga dihitung sebagai persen dari omzet. Langkah lengkapnya ada di rumus harga jual dari margin.
Kalau terbiasa dengan markup
Tidak masalah tetap memakai markup, asalkan Anda tahu konversinya. Kalau target margin Anda 25%, pakai markup 33%, bukan 25%. Aturan "jual dua kali modal" yang populer di usaha kuliner adalah markup 100% atau margin 50%; pembahasannya ada di harga jual dua kali modal.
Hati-hati saat memberi diskon
Diskon dipotong dari harga jual, jadi selalu bandingkan dengan margin, bukan markup. Diskon 10% pada barang bermargin 23% hanya menyisakan untung sekitar 13% dari harga awal. Hitungan lengkap ada di cara menghitung diskon agar tetap untung.
Catatan: Kedua istilah ini tidak salah. Yang membuat masalah adalah mencampurnya. Kalau Anda punya karyawan atau partner, sepakati satu istilah, tulis di SOP, dan pakai istilah yang sama di laporan.
Kesalahan umum yang sering terjadi
- Mengira diskon 30% hanya "menghapus" markup 30%. Diskon 30% dari harga dengan markup 30% tidak mengembalikan harga ke modal, tapi ke bawahnya (Rp 13.000 dikurangi 30% menjadi Rp 9.100, di bawah modal Rp 10.000).
- Memakai markup yang sama untuk semua barang. Barang cepat laku seperti beras bisa bermargin tipis, sementara barang lambat laku butuh margin lebih tebal untuk menutup risiko kedaluwarsa.
- Lupa memasukkan ongkos angkut ke modal. Markup 20% dari modal yang belum termasuk ongkir kulakan ternyata lebih kecil dari perkiraan.
Contoh: satu toko, dua istilah
Bayangkan Pak Joko dan anaknya mengelola toko sembako bersama. Pak Joko terbiasa berkata "jual naik 25%", maksudnya markup. Anaknya baru belajar laporan dan menargetkan "margin 25%". Untuk sekarung gula 50 kg dengan modal Rp 800.000, hasilnya:
| Cara hitung | Harga jual | Untung | Margin |
|---|---|---|---|
| Markup 25% (cara Pak Joko) | Rp 1.000.000 | Rp 200.000 | 20% |
| Margin 25% (cara anaknya) | Rp 1.066.700 | Rp 266.700 | 25% |
Selisih Rp 66.700 per karung terlihat kecil, tapi kalau toko menjual 20 karung sebulan, bedanya lebih dari Rp 1,3 juta. Bukan soal siapa yang benar, tapi keduanya harus sepakat memakai istilah mana sebelum memasang harga. Setelah sepakat, cek hasilnya lewat perhitungan laba kotor setiap bulan.
Melihat margin asli per produk
Tabel di atas berguna saat menentukan harga, tapi margin sebenarnya baru terlihat setelah barang terjual, karena modal berubah setiap kulakan dan diskon diberikan di kasir. Membandingkan margin rencana dengan margin nyata adalah cara paling cepat menemukan harga yang perlu dinaikkan.
KasirPOS menampilkan margin per produk di laporan laba rugi, memakai harga modal rata-rata yang diperbarui setiap kali Anda mencatat pembelian dari supplier. Saat transaksi, pemilik bisa melihat perkiraan laba di keranjang, jadi diskon per item atau per transaksi tidak diberikan secara buta. Harga grosir bertingkat juga bisa diatur otomatis berdasarkan jumlah beli.
Aplikasi ini gratis untuk iPhone dan iPad, tanpa langganan dan tanpa batas jumlah produk. Coba unduh KasirPOS di App Store, isi modal dan harga jual sepuluh barang, lalu bandingkan margin di laporan dengan perkiraan Anda. Selengkapnya tentang fitur harga dan laporan ada di situs resmi aplikasi kasir KasirPOS.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa perbedaan margin dan markup?
Markup adalah untung dibagi harga modal, sedangkan margin adalah untung dibagi harga jual. Untuk barang yang sama, margin selalu lebih kecil dari markup.
Markup 30 persen sama dengan margin berapa?
Markup 30 persen setara dengan margin sekitar 23,1 persen. Rumusnya margin = markup dibagi (100 persen + markup).
Mana yang lebih baik dipakai, margin atau markup?
Keduanya boleh, asalkan konsisten. Margin lebih mudah dibandingkan dengan biaya operasional karena sama-sama dihitung dari omzet.
Bagaimana menghitung harga jual dari target margin?
Bagi harga modal dengan (1 dikurangi margin). Misalnya modal Rp 16.500 dengan target margin 25 persen menghasilkan harga jual Rp 22.000.