Blog KasirPOSkasirpos.swift.id

Biaya MDR QRIS untuk Usaha Mikro: Apa yang Perlu Dipahami

Oleh Ihwan · · 5 menit baca

Catatan penjualan hari Sabtu menunjukkan QRIS masuk Rp 1.250.000. Tapi saat dicek di rekening, dana yang cair hanya sedikit di bawahnya. Anda mengulang hitungan dua kali, curiga ada transaksi yang hilang. Ternyata tidak ada yang hilang: selisih itu adalah potongan biaya yang disebut MDR. Banyak pemilik warung baru tahu soal MDR QRIS setelah melihat saldo terpotong, bukan sebelum mendaftar.

Tulisan ini menjelaskan konsep MDR dengan bahasa sederhana, cara menghitung dampaknya ke laba, dan cara memasukkannya ke harga jual. Ketentuan MDR diatur Bank Indonesia dan sudah beberapa kali berubah, jadi angka persentase di bawah hanya contoh. Selalu cek ketentuan terbaru.

Singkatnya: MDR (Merchant Discount Rate) adalah biaya yang dipotong dari pedagang untuk setiap transaksi QRIS, dihitung dalam persen dari nominal. Untuk usaha mikro, Bank Indonesia pernah menetapkan keringanan hingga 0% untuk transaksi sampai nominal tertentu, tetapi aturannya bisa berubah. Perlakukan MDR sebagai biaya, catat terpisah, dan pertimbangkan dalam harga jual.

Apa itu MDR QRIS?

Saat pembeli membayar dengan QRIS, ada beberapa pihak yang terlibat: aplikasi pembeli, penyedia QRIS Anda, dan jaringan yang menghubungkannya. Biaya layanan untuk semua itu dibebankan ke pedagang dalam bentuk persentase dari nilai transaksi. Inilah MDR.

Beberapa hal yang perlu dipahami:

Untuk angka resmi yang berlaku saat ini, baca informasi QRIS di situs Bank Indonesia dan rincian tertulis dari penyedia QRIS Anda. Kalau Anda belum mendaftar, daftar pertanyaan yang perlu diajukan ada di cara daftar QRIS untuk UMKM.

Menghitung potongan MDR QRIS: contoh angka

Misalkan sebuah kedai kopi kecil menerima pembayaran QRIS Rp 15.000.000 sebulan. Kita hitung dengan beberapa contoh tarif agar terlihat dampaknya. Persentase di tabel ini hanya contoh untuk latihan hitung, bukan tarif resmi.

Contoh tarif MDRPotongan per bulanPotongan per tahun
0%Rp 0Rp 0
0,3%Rp 45.000Rp 540.000
0,7%Rp 105.000Rp 1.260.000

Kelihatan kecil per transaksi, tapi coba bandingkan dengan laba. Segelas es kopi susu Rp 18.000 dengan HPP Rp 7.500 memberi laba kotor Rp 10.500. Potongan 0,7% dari Rp 18.000 adalah Rp 126, atau sekitar 1,2% dari laba kotor gelas itu. Untuk barang bermargin tipis seperti rokok atau pulsa, porsinya jauh lebih besar. Rokok seharga Rp 33.000 dengan laba Rp 1.500, dipotong 0,7%, berarti Rp 231 hilang, sekitar 15% dari labanya.

Pelajarannya: MDR terasa paling berat di barang yang untungnya tipis. Bandingkan juga dengan biaya menerima tunai yang sering tidak terhitung: waktu menghitung kembalian, risiko uang palsu, dan perjalanan menyetor uang ke bank. Biaya kecil QRIS sering sebanding dengan kemudahan dan pembeli tambahan yang datang karena bisa bayar tanpa uang tunai.

Memasukkan MDR ke perhitungan harga jual

Ada beberapa pendekatan, dan masing-masing punya konsekuensi:

1. Serap dalam harga jual semua barang

Tambahkan perkiraan biaya MDR ke biaya operasional, lalu biarkan margin semua barang menanggungnya. Ini cara paling sederhana dan paling umum. Rumus harga dari target margin tetap bisa dipakai; lihat rumus harga jual dari target margin.

2. Tinjau ulang barang bermargin tipis

Untuk barang yang labanya sangat kecil, pastikan harga jualnya masih menutup MDR saat dibayar QRIS. Kalau labanya Rp 500 dan potongannya Rp 300, barang itu hampir tidak menghasilkan apa-apa. Kalau perlu, sesuaikan sedikit harga jualnya, misalnya dibulatkan ke atas Rp 500.

3. Jangan bebankan MDR ke pembeli

Sebagian pedagang tergoda menambah "biaya QRIS" Rp 1.000 kepada pembeli. Sebaiknya jangan: ketentuan QRIS dari Bank Indonesia pada umumnya tidak membolehkan pedagang membebankan MDR kepada pembeli, dan perjanjian dengan penyedia biasanya memuat hal serupa. Cek aturan terbaru dan isi perjanjian Anda. Dari sisi pelanggan, biaya tambahan juga membuat pembeli enggan kembali.

Mencatat MDR sebagai biaya, bukan selisih misterius

Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap selisih antara penjualan QRIS dan dana cair sebagai "uang hilang" atau mengabaikannya. Akibatnya laporan laba sedikit lebih besar dari kenyataan. Cara mencatat yang rapi:

  1. Catat penjualan sebesar nilai belanja pembeli, misalnya Rp 1.250.000. Omzet tetap omzet.
  2. Saat dana cair ke rekening, bandingkan jumlahnya dengan total penjualan QRIS.
  3. Selisihnya dicatat sebagai biaya operasional dengan keterangan "MDR QRIS".
  4. Akumulasikan per bulan agar Anda tahu berapa biaya pembayaran digital yang sebenarnya.

Dengan begitu, MDR masuk ke daftar biaya bersama listrik, plastik, dan gas. Daftar biaya lain yang sering terlupa ada di biaya operasional warung.

Melacak QRIS dan potongannya dengan KasirPOS

Perlu dipahami dulu: aplikasi kasir KasirPOS tidak memproses pembayaran, sehingga tidak ada biaya MDR dari aplikasi ini. Potongan MDR berasal dari penyedia QRIS Anda. KasirPOS hanya mencatat bahwa sebuah transaksi dibayar dengan QRIS, dan semua fiturnya gratis tanpa langganan.

Yang bisa dibantu dari sisi pencatatan:

Kesimpulan

MDR QRIS adalah biaya pembayaran digital yang wajar, bukan uang hilang. Pahami konsepnya, hitung dampaknya terutama pada barang bermargin tipis, catat sebagai biaya, dan masukkan ke perhitungan harga. Karena aturan bisa berubah, cek ketentuan terbaru di Bank Indonesia dan minta rincian tertulis dari penyedia QRIS Anda. Untuk mencatat penjualan per metode dan biaya di iPhone atau iPad, lihat fitur lengkap KasirPOS dan unduh KasirPOS di App Store.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa itu MDR QRIS?

MDR atau Merchant Discount Rate adalah biaya yang dibebankan ke pedagang untuk setiap transaksi QRIS, dihitung dalam persen dari nominal dan biasanya dipotong langsung dari dana yang diterima.

Berapa MDR QRIS untuk usaha mikro?

Bank Indonesia menetapkan ketentuannya dan pernah memberi keringanan hingga 0% untuk transaksi usaha mikro sampai nominal tertentu. Karena aturan bisa berubah, cek ketentuan terbaru di situs Bank Indonesia dan penyedia QRIS Anda.

Siapa yang menanggung biaya MDR QRIS?

MDR ditanggung pedagang. Ketentuan QRIS pada umumnya tidak membolehkan pedagang membebankan MDR kepada pembeli, jadi cek aturan terbaru Bank Indonesia dan perjanjian dengan penyedia QRIS Anda.

Bagaimana mencatat potongan MDR di pembukuan?

Catat penjualan sebesar nilai belanja, lalu catat selisih antara penjualan QRIS dan dana yang cair sebagai biaya operasional dengan keterangan MDR QRIS.