Distributor es krim menitipkan freezer di depan warung dan membayar Rp 100.000 per bulan. Tetangga menitip keripik dan Anda dapat bagian Rp 1.000 per bungkus yang laku. Sesekali ada yang menyewa etalase depan untuk pasang spanduk. Uang-uang ini masuk ke laci, bercampur dengan uang penjualan, lalu hilang begitu saja dari catatan. Inilah yang disebut pemasukan lain lain: uang masuk yang bukan dari menjual barang dagangan Anda sendiri.
Masalahnya bukan hanya uang yang tidak tercatat. Kalau pemasukan ini dicampur dengan penjualan, margin dagangan Anda terlihat lebih bagus dari kenyataan, dan Anda tidak tahu apakah warungnya sendiri sebenarnya sehat.
Singkatnya: pemasukan lain-lain adalah uang masuk di luar penjualan barang, seperti sewa tempat, fee titip jual, komisi, atau bonus dari distributor. Catat terpisah dari penjualan, tetap masukkan ke laba bersih, dan nilai margin dagangan hanya dari penjualan barang supaya keputusan harga dan stok tetap akurat.
Jenis pemasukan lain lain yang sering ada di warung
| Jenis | Contoh | Pola |
|---|---|---|
| Sewa tempat | Sewa lahan freezer, rak, atau etalase oleh distributor | Tetap, bulanan |
| Fee titip jual | Bagian dari kue, keripik, atau sambal titipan tetangga | Tergantung barang laku |
| Fee layanan | Fee agen bank, isi ulang tertentu, jasa fotokopi sampingan | Per transaksi |
| Sewa ruang promosi | Spanduk, stiker, atau poster merek di dinding warung | Tidak tentu |
| Bonus dan hadiah | Bonus target dari sales, hadiah program distributor | Sesekali |
| Penjualan barang bekas | Kardus, botol, atau jeriken kosong ke pengepul | Sesekali |
Yang bukan pemasukan lain-lain: pinjaman, uang tambahan modal dari Anda sendiri, dan uang yang ditarik dari bank untuk mengisi laci. Semua itu tidak menambah laba.
Kenapa harus dipisah dari penjualan?
Contoh rekaan warung kelontong dalam satu bulan:
| Pos | Dicampur | Dipisah |
|---|---|---|
| Penjualan barang | Rp 30.450.000 | Rp 30.000.000 |
| Harga pokok barang | Rp 26.400.000 | Rp 26.400.000 |
| Laba kotor dagangan | Rp 4.050.000 (13,3%) | Rp 3.600.000 (12%) |
| Pemasukan lain (sewa freezer, fee titipan, kardus bekas) | Sudah tercampur | Rp 450.000 |
Total uangnya sama. Tapi pada versi yang dicampur, margin dagangan terlihat 13,3% padahal sebenarnya 12%. Kalau suatu hari distributor menarik freezer-nya, pemilik yang mencampur catatan akan bingung kenapa "margin turun" padahal harga jual dan harga modal tidak berubah. Perbedaan omzet, laba kotor, dan laba bersih dijelaskan di perbedaan omzet dan laba.
Ada alasan kedua: pemasukan lain sering tidak stabil. Bonus dari sales bisa berhenti kapan saja. Kalau Anda menghitung target dan harga jual dengan bergantung pada pemasukan ini, warung bisa terkejut ketika sumbernya hilang.
Apakah pemasukan tambahan itu sepadan?
Tidak semua pemasukan lain benar-benar menguntungkan. Freezer titipan distributor memang memberi sewa Rp 100.000 per bulan, tapi ia juga memakai listrik. Kalau tambahan token listriknya sekitar Rp 80.000 per bulan, keuntungan bersihnya hanya Rp 20.000, ditambah ruang depan warung yang terpakai. Rak titipan keripik yang jarang laku juga memakan tempat yang bisa dipakai untuk barang laris milik Anda sendiri.
Karena dicatat terpisah, Anda bisa menilai setiap sumber dengan jujur: berapa yang masuk, biaya apa yang ikut muncul, dan apakah ruang serta tenaga yang dipakai sebanding. Pemasukan lain yang ternyata merugikan bisa dihentikan tanpa ragu.
Kasus khusus: barang titipan
Titip jual atau konsinyasi bisa dicatat dengan dua cara. Pilih satu dan konsisten:
Cara 1: hanya catat fee-nya
Barang titipan tidak dimasukkan sebagai stok Anda. Saat laku, uang hasil penjualan disisihkan untuk penitip, dan hanya bagian Anda yang dicatat sebagai pemasukan lain. Contoh: keripik dijual Rp 10.000, bagian penitip Rp 9.000, jadi Anda mencatat pemasukan lain Rp 1.000 per bungkus. Cara ini paling sederhana untuk titipan kecil.
Cara 2: catat sebagai produk dengan harga modal
Barang titipan didaftarkan sebagai produk dengan harga modal sebesar bagian penitip. Saat laku, penjualan Rp 10.000 tercatat di kasir, harga pokok Rp 9.000, dan laba kotor Rp 1.000. Cara ini cocok kalau titipan banyak dan sering, karena stoknya ikut terpantau. Tapi ingat, penjualan titipan ikut membesarkan omzet, jadi lihat juga laporan per kategori.
Penjelasan lengkap soal pembagian hasil dan pengembalian barang ada di barang titipan konsinyasi di warung.
Langkah mencatat pemasukan lain-lain
- Buat daftar sumbernya. Tulis semua sumber pemasukan di luar penjualan yang pernah Anda terima dalam tiga bulan terakhir.
- Tentukan kategorinya. Cukup beberapa: sewa tempat, fee titipan, fee layanan, bonus, lain-lain.
- Catat saat uang diterima. Tulis tanggal, sumber, jumlah, dan masuk ke mana (laci atau rekening).
- Simpan bukti. Kuitansi sewa dari distributor atau pesan WhatsApp penitip sudah cukup.
- Laporkan di bawah laba kotor. Di laporan bulanan, urutannya: penjualan, harga pokok, laba kotor dagangan, lalu tambah pemasukan lain dan kurangi biaya operasional untuk mendapat laba bersih.
Untuk fee agen bank dan penjualan pulsa atau token, ada pertimbangan tambahan karena uang nasabah ikut lewat laci. Baca agen bank Laku Pandai di warung dan cara mencatat penjualan pulsa dan token.
Catatan: pemasukan lain-lain tetap bagian dari penghasilan usaha. Untuk urusan pajak, cek ketentuan terbaru di situs resmi Direktorat Jenderal Pajak atau tanyakan ke petugas pajak setempat.
Mencatat pemasukan lain di KasirPOS
Aplikasi kasir KasirPOS punya pencatatan pengeluaran dan pemasukan lain yang terpisah dari transaksi penjualan. Sewa freezer, fee titipan, atau hasil jual kardus bisa dicatat di sana, lengkap dengan dompet tujuannya, misalnya laci atau rekening bank. Dengan begitu:
- Omzet dan margin per produk hanya dihitung dari penjualan barang.
- Laba bersih di laporan laba rugi tetap memasukkan pemasukan lain.
- Saldo laci tetap cocok saat tutup kasir, karena uang sewa yang diterima tunai ikut tercatat.
Kalau titipan Anda catat sebagai produk, laporan penjualan per kategori membantu memisahkan hasil titipan dari dagangan sendiri. Semua fitur gratis, tanpa langganan, dan berjalan offline di iPhone dan iPad. Unduh KasirPOS di App Store atau baca fitur lengkap KasirPOS.
Pemasukan tambahan itu menyenangkan. Pastikan saja ia tercatat di tempatnya sendiri, supaya Anda tetap bisa melihat dengan jelas seberapa sehat dagangan inti warung Anda.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa contoh pemasukan lain-lain di warung?
Sewa lahan freezer atau etalase dari distributor, fee barang titipan, fee layanan seperti agen bank, bonus dari sales, dan hasil menjual kardus atau botol bekas.
Apakah pemasukan lain-lain termasuk omzet?
Sebaiknya tidak dicampur dengan omzet penjualan barang. Catat terpisah, lalu tambahkan setelah laba kotor dagangan untuk menghitung laba bersih.
Bagaimana mencatat barang titipan atau konsinyasi?
Bisa hanya mencatat fee bagian Anda sebagai pemasukan lain, atau mendaftarkan barang titipan sebagai produk dengan harga modal sebesar bagian penitip. Pilih satu cara dan gunakan secara konsisten.
Apakah pinjaman termasuk pemasukan lain-lain?
Tidak. Pinjaman dan tambahan modal dari pemilik bukan pemasukan karena tidak menambah laba, dan pinjaman harus dikembalikan.