Anda ingin menambah etalase, membeli freezer, atau memperbesar stok menjelang Lebaran, lalu teringat ada program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Begitu datang ke bank, petugas bertanya, "Omzet per bulannya berapa, Bu? Ada catatannya?" Anda hanya bisa menjawab kira-kira, karena selama ini semua dicatat di kepala atau di buku yang sudah sobek.
Menyiapkan laporan keuangan untuk KUR tidak berarti harus menyewa akuntan. Bank yang menyalurkan KUR umumnya ingin melihat bahwa usaha Anda benar-benar berjalan dan sanggup mencicil. Catatan sederhana yang konsisten sering kali sudah sangat membantu.
Singkatnya: siapkan rekap penjualan bulanan, laba rugi sederhana, catatan belanja stok, mutasi rekening usaha, dan daftar utang yang sedang berjalan, idealnya untuk enam bulan terakhir. Catatan yang rapi dan konsisten memperkuat pengajuan, tetapi syarat pasti tiap bank berbeda, jadi selalu tanyakan langsung ke bank penyalur.
Apa yang biasanya ingin dilihat bank
Setiap bank punya prosedur sendiri, tetapi secara umum petugas ingin menjawab tiga pertanyaan:
- Apakah usahanya nyata dan sudah berjalan? Biasanya dilihat dari lama usaha, foto tempat usaha, legalitas seperti NIB, dan kunjungan ke lokasi.
- Berapa kemampuan bayarnya? Dilihat dari omzet, laba, dan pengeluaran rutin.
- Apakah ada kewajiban lain? Misalnya cicilan motor, pinjaman lain, atau riwayat kredit.
Catatan keuangan Anda berperan besar di pertanyaan kedua. Tanpa catatan, petugas hanya bisa menebak dari obrolan dan kunjungan. Dengan catatan, Anda yang menunjukkan angkanya. Kalau NIB belum ada, panduan izin usaha warung dan NIB bisa jadi langkah awal.
Laporan keuangan untuk KUR yang umum disiapkan
Berikut jenis catatan yang umumnya berguna saat mengajukan KUR mikro untuk warung atau kedai. Anggap ini daftar persiapan, bukan daftar resmi dari bank mana pun.
1. Rekap penjualan bulanan
Satu tabel berisi omzet per bulan selama enam bulan terakhir. Contoh untuk warung makan kecil:
| Bulan | Omzet | Hari buka | Rata-rata per hari |
|---|---|---|---|
| Mei | Rp 27.600.000 | 26 | Rp 1.062.000 |
| Juni | Rp 29.100.000 | 27 | Rp 1.078.000 |
| Juli | Rp 31.800.000 | 27 | Rp 1.178.000 |
| Agustus | Rp 30.400.000 | 26 | Rp 1.169.000 |
| September | Rp 28.900.000 | 26 | Rp 1.112.000 |
| Oktober | Rp 32.500.000 | 27 | Rp 1.204.000 |
Angka yang stabil atau naik perlahan lebih meyakinkan daripada satu bulan yang sangat tinggi.
2. Laba rugi sederhana
Omzet dikurangi bahan baku atau harga pokok barang, lalu dikurangi biaya operasional seperti sewa, listrik, gas, dan gaji. Contoh rata-rata per bulan: omzet Rp 30 juta, bahan Rp 17,4 juta, operasional Rp 7,1 juta, laba bersih sekitar Rp 5,5 juta. Format lengkapnya ada di laporan laba rugi sederhana.
3. Catatan belanja stok dan supplier
Nota belanja dari grosir atau pasar menunjukkan perputaran barang. Kalau rapi, catatan ini juga menguatkan angka omzet: tidak mungkin omzet Rp 30 juta kalau belanja bahan hanya Rp 2 juta.
4. Mutasi rekening usaha
Kalau pembayaran QRIS dan transfer masuk ke rekening, mutasi rekening jadi bukti pendukung yang kuat. Inilah salah satu alasan penting untuk memisahkan uang pribadi dan usaha; rekening yang tercampur belanja rumah tangga sulit dibaca.
5. Daftar utang yang berjalan
Tulis jujur cicilan yang sedang Anda bayar dan utang ke supplier. Bank biasanya tetap bisa mengecek riwayat kredit, jadi keterbukaan justru membantu.
Kenapa enam bulan catatan itu penting
Satu bulan catatan bisa saja kebetulan bagus atau buruk. Enam bulan memperlihatkan pola: ada bulan ramai dan sepi, tapi usaha tetap berjalan. Kalau Anda baru mulai mencatat hari ini, jangan buru-buru mengajukan minggu depan. Catat tertib beberapa bulan dulu, sambil memastikan kebutuhan pinjamannya jelas.
Catatan yang konsisten juga melatih Anda sendiri. Setelah beberapa bulan, Anda tahu berapa laba bersih yang sebenarnya, dan dari situ bisa menghitung cicilan yang aman. Perbandingan berbagai sumber pinjaman dan risikonya dibahas di artikel pinjam modal usaha: KUR, koperasi, atau pinjol.
Hitung dulu kemampuan cicilan sebelum datang ke bank
Sebelum mengajukan, hitung sendiri. Misalnya laba bersih rata-rata Rp 5,5 juta per bulan, dan kebutuhan rumah tangga yang diambil dari usaha Rp 3,5 juta. Sisa Rp 2 juta. Cicilan yang aman sebaiknya jauh di bawah angka itu, misalnya maksimal Rp 1–1,2 juta, supaya masih ada ruang ketika bulan sepi.
Pinjaman juga sebaiknya untuk hal yang menambah penghasilan, seperti etalase pendingin untuk jualan minuman dingin, bukan untuk menutup kas yang bocor. Kalau kas bocor karena pencatatan buruk, pinjaman hanya menunda masalah.
Menyiapkan catatan dengan KasirPOS
Kalau setiap transaksi sudah tercatat di aplikasi kasir KasirPOS, menyiapkan bahan untuk bank jadi lebih ringan:
- Buka laporan dan pilih periode bulanan untuk melihat omzet, laba kotor, dan laba bersih tiap bulan.
- Lihat laporan laba rugi yang memuat biaya operasional yang Anda catat.
- Ekspor laporan ke PDF A4 untuk dicetak, atau ke Excel jika petugas ingin datanya.
- Gunakan catatan pembelian supplier sebagai pendukung angka belanja stok.
- Laporan per metode pembayaran membantu mencocokkan penjualan QRIS dan transfer dengan mutasi rekening.
Semua fitur tersebut gratis dan berjalan offline di iPhone atau iPad. Anda bisa unduh KasirPOS di App Store dan mulai mencatat dari sekarang, sehingga beberapa bulan lagi catatannya sudah cukup untuk ditunjukkan. Info selengkapnya ada di situs KasirPOS.
Catatan: KasirPOS menyediakan laporan penjualan dan laba rugi untuk pengelolaan usaha, bukan laporan keuangan yang diaudit. Persyaratan KUR, plafon, bunga, dan dokumen yang diminta ditentukan oleh bank penyalur dan pemerintah, dan bisa berubah. Tanyakan syarat terbaru langsung ke bank sebelum mengajukan.
Kesalahan yang sering terjadi saat mengajukan
- Melebih-lebihkan omzet. Angka yang tidak sejalan dengan nota belanja atau kondisi toko justru menimbulkan keraguan.
- Tidak tahu laba bersih. Menyebut omzet saja tidak cukup; yang menentukan kemampuan cicil adalah laba.
- Tujuan pinjaman tidak jelas. Siapkan rencana sederhana: untuk apa uangnya, berapa, dan bagaimana itu menambah penghasilan.
- Catatan baru dibuat mendadak. Catatan enam bulan yang dibuat dalam semalam biasanya mudah dikenali. Lebih baik mulai mencatat jujur sejak sekarang.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah pengajuan KUR wajib melampirkan laporan keuangan?
Syaratnya berbeda tiap bank dan jenis KUR. Banyak bank meminta bukti usaha berjalan dan gambaran omzet, sehingga catatan penjualan yang rapi akan membantu. Tanyakan syarat pastinya ke bank penyalur.
Berapa lama catatan keuangan yang sebaiknya disiapkan?
Catatan enam bulan terakhir umumnya cukup untuk menunjukkan pola usaha. Semakin konsisten catatannya, semakin mudah petugas menilai kemampuan bayar.
Apakah laporan dari aplikasi kasir bisa dipakai untuk pengajuan KUR?
Rekap penjualan dan laba rugi dari aplikasi kasir bisa dipakai sebagai bahan pendukung. Keputusan apakah dokumen itu diterima tetap ada di bank.
Bagaimana menghitung cicilan yang aman sebelum pinjam?
Hitung laba bersih rata-rata, kurangi kebutuhan pribadi yang diambil dari usaha, lalu pilih cicilan yang jauh di bawah sisanya agar tetap aman saat bulan sepi.