Blog KasirPOSkasirpos.swift.id

Cara Membuat Barcode Sendiri untuk Barang Tanpa Kode

Oleh Ihwan · · 5 menit baca

Sebagian besar barang pabrikan di toko Anda sudah punya barcode, jadi tinggal dipindai. Masalahnya ada di sisanya: gula dan kacang yang Anda bungkus ulang per seperempat kilo, keripik buatan tetangga, sambal titipan, kue kering dalam toples. Untuk barang-barang ini kasir harus mengetik nama, mencari di daftar, atau menghafal harga. Saat antrean panjang, di situlah salah harga dan salah stok terjadi.

Kabar baiknya, cara membuat barcode sendiri untuk barang seperti ini tidak sulit dan tidak perlu mahal. Barcode buatan sendiri tidak harus terdaftar ke mana pun selama hanya dipakai di dalam toko Anda.

Singkatnya: buat daftar barang tanpa barcode, beri nomor unik dengan pola yang konsisten (misalnya diawali angka 2 untuk kode internal), ubah nomornya jadi barcode, cetak di stiker, tempel, lalu uji dengan scanner. Barcode buatan sendiri cukup untuk keperluan internal toko. Kalau produk Anda akan dijual di toko lain atau ritel modern, barulah perlu kode resmi.

Barcode internal vs barcode resmi

Barcode di kemasan pabrik umumnya berformat EAN-13 (13 digit) dengan nomor yang didaftarkan produsen ke lembaga penomoran resmi, supaya unik di seluruh dunia. Itu penting untuk barang yang beredar di banyak toko.

Untuk barang yang hanya dijual di toko Anda sendiri, keunikan global tidak diperlukan. Yang penting hanya satu: nomornya tidak bentrok dengan barcode barang lain di toko Anda. Karena itu, banyak toko memakai nomor yang diawali angka 2. Rentang awalan 20–29 di sistem EAN memang disediakan untuk penggunaan internal toko, sehingga kecil kemungkinan bentrok dengan barcode pabrik.

Catatan: jika Anda memproduksi barang sendiri dan berencana menitipkannya ke minimarket atau toko lain, tanyakan kepada pihak toko tujuan jenis kode yang mereka minta. Barcode internal hanya berlaku di toko Anda.

Cara membuat barcode sendiri, langkah demi langkah

  1. Daftar barang tanpa barcode. Jalan keliling rak dan catat semuanya, termasuk barang yang dibungkus ulang dalam beberapa ukuran.
  2. Tetapkan pola nomor. Contoh sederhana: angka 2 + kode kategori dua digit + nomor urut tiga digit. Jadi 201001 untuk gula 1/4 kg, 201002 untuk gula 1/2 kg, 202001 untuk keripik singkong.
  3. Bedakan setiap ukuran dan rasa. Keripik pedas dan keripik original harus punya nomor berbeda, karena harganya atau stoknya berbeda.
  4. Ubah nomor menjadi gambar barcode. Gunakan aplikasi kasir yang bisa membuat barcode, atau aplikasi pembuat barcode dan label pilihan Anda. Format Code 128 menerima nomor pendek seperti contoh di atas. Jika ingin format EAN-13, nomornya harus 13 digit (12 digit pilihan Anda ditambah 1 digit pemeriksa yang dihitung otomatis oleh aplikasi pembuat barcode).
  5. Cetak di stiker. Bisa memakai printer label, atau minta jasa cetak stiker membuat satu lembar berisi banyak barcode yang sama.
  6. Tempel di tempat yang rata, tidak terlipat dan tidak menempel di lekukan plastik.
  7. Uji pindai setiap barcode baru sebelum barangnya dipajang.

Contoh daftar barcode internal

Contoh karangan untuk sebuah toko kelontong yang menjual barang bungkus ulang dan titipan:

KodeBarangHarga jualKeterangan
201001Gula pasir 1/4 kgRp 5.000Bungkus ulang
201002Gula pasir 1/2 kgRp 9.500Bungkus ulang
201003Kacang tanah 1/4 kgRp 9.000Bungkus ulang
202001Keripik singkong originalRp 7.000Titipan
202002Keripik singkong pedasRp 7.000Titipan
203001Sambal botol kecilRp 15.000Titipan

Dengan pola ini, kasir dan Anda sendiri bisa langsung tahu dari dua digit kedua bahwa kode 202xxx adalah barang titipan. Pola seperti ini juga membantu saat menamai produk di kasir; lihat cara memberi nama produk di kasir.

Lembar barcode di meja kasir

Untuk barang yang sulit ditempeli stiker, seperti gorengan, kue basah, atau es batu, cetak barcode-nya di satu lembar kertas, laminating, dan tempel di dekat meja kasir. Kasir tinggal memindai dari lembar itu. Cara ini juga cocok untuk jasa seperti fotokopi atau isi ulang galon.

Agar barcode buatan sendiri mudah terbaca

Mulai dari barang yang paling sering dijual

Anda tidak harus memberi barcode pada semua barang sekaligus. Hitung dulu manfaatnya. Misalnya, keripik titipan terjual 15 bungkus sehari, dan setiap kali kasir butuh sekitar 8 detik untuk mencari namanya di daftar. Dengan barcode, cukup 1–2 detik. Dalam sehari, itu menghemat sekitar satu setengah menit untuk satu barang saja. Kalikan dengan sepuluh barang tanpa kode yang sering dijual, dan antrean di jam ramai terasa jauh lebih lancar.

Urutan yang masuk akal:

  1. Barang bungkus ulang yang laku setiap hari, seperti gula, minyak curah, atau telur per kilo dalam plastik.
  2. Barang titipan dengan banyak rasa atau ukuran, karena paling sering salah pilih.
  3. Barang yang jarang laku boleh menunggu, cukup cari lewat nama.

Selain mempercepat kasir, barcode juga mengurangi salah input yang membuat stok selisih. Satu salah pilih "keripik pedas" padahal "original" berarti dua barang sekaligus tercatat salah.

Membuat dan memakai barcode sendiri di KasirPOS

KasirPOS bisa membuatkan barcode untuk produk yang belum punya kode, jadi Anda tidak perlu mengarang nomor sendiri untuk setiap barang. Setelah tersimpan, barcode itu bisa dipindai seperti barcode pabrik:

  1. Dengan kamera iPhone atau iPad, yang terus memindai sampai Anda menutupnya, jadi beberapa barang bisa dipindai berurutan.
  2. Dengan scanner barcode Bluetooth atau USB yang mengetik langsung ke kolom pencarian. Pilihan perangkatnya dibahas di scanner barcode untuk iPhone dan iPad.

Untuk mencetak stikernya, gunakan printer label atau jasa cetak stiker pilihan Anda. Printer thermal yang tersambung ke KasirPOS dipakai untuk struk, struk dapur, dan label cup minuman.

Untuk barang curah yang tidak praktis diberi stiker, KasirPOS juga mendukung penjualan per nominal, misalnya "gula Rp 10.000" otomatis dihitung jadi beratnya. Semua fitur gratis untuk iPhone dan iPad, tanpa batas jumlah produk. Lihat fitur lengkap KasirPOS atau unduh KasirPOS di App Store.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah barcode buatan sendiri harus didaftarkan?

Tidak, selama hanya dipakai di dalam toko Anda sendiri. Kode resmi diperlukan jika produk akan dijual di toko lain atau ritel modern.

Nomor apa yang sebaiknya dipakai untuk barcode internal?

Banyak toko memakai nomor berawalan angka 2, karena rentang awalan 20–29 di sistem EAN disediakan untuk penggunaan internal sehingga kecil kemungkinan bentrok dengan barcode pabrik.

Bagaimana mencetak barcode sendiri?

Ubah nomor menjadi gambar barcode dengan aplikasi, lalu cetak di stiker memakai printer label atau jasa cetak stiker. Uji setiap barcode dengan scanner sebelum ditempel.

Bagaimana dengan barang yang tidak bisa ditempeli stiker?

Cetak barcode-nya di satu lembar kertas yang dilaminating dan letakkan di dekat meja kasir, sehingga kasir cukup memindai dari lembar itu.