Blog KasirPOSkasirpos.swift.id

Jual Berdasarkan Nominal di KasirPOS: "Beli Rp 10.000" Jadi Kg

Oleh Ihwan · · 5 menit baca

"Bu, berasnya sepuluh ribu ya." "Minyaknya lima ribu aja." Di warung sembako, kalimat seperti ini terdengar puluhan kali sehari. Pembeli menyebut uang, bukan berat. Anda menimbang kira-kira, menerima uangnya, lalu di buku atau aplikasi kasir mencatat... apa? "Beras 10.000"? Berapa kilonya? Akhir bulan stok beras di catatan dan di karung tidak pernah cocok.

Fitur jual per nominal di KasirPOS dibuat untuk situasi ini. Kasir cukup memasukkan nominal yang disebut pembeli, misalnya Rp 10.000, dan aplikasi menghitung berapa kilogram atau liter yang harus ditimbang. Penjualan tercatat dalam rupiah, stok berkurang dalam kg atau liter yang tepat.

Singkatnya: atur barang curah dengan satuan kg atau liter dan harga per satuan, lalu saat pembeli menyebut nominal, masukkan nominalnya di kasir. KasirPOS menghitung beratnya (misalnya Rp 10.000 beras seharga Rp 13.500/kg = 0,741 kg), menimbang jadi lebih tepat, dan stok tetap akurat meski pembeli membeli per rupiah.

Masalah klasik jualan curah per rupiah

Menjual curah per nominal sebenarnya menguntungkan, karena pembeli dengan uang pas-pasan tetap bisa belanja. Tapi ada tiga masalah yang sering muncul:

Rumus dasar jual per nominal

Rumusnya sederhana: berat = nominal ÷ harga per kg (atau per liter). Contoh dengan harga ilustrasi:

BarangHarga per satuanPembeli bilangYang ditimbang
Beras mediumRp 13.500/kgRp 10.0000,741 kg (±741 g)
Gula pasirRp 18.000/kgRp 5.0000,278 kg (±278 g)
Minyak goreng curahRp 17.000/literRp 5.0000,294 liter (±294 ml)
TelurRp 29.000/kgRp 15.0000,517 kg (timbang sampai mendekati)

Kalau Anda belum memakai aplikasi, tempelkan tabel seperti ini di dekat timbangan untuk nominal yang paling sering diminta: Rp 2.000, Rp 5.000, Rp 10.000, Rp 20.000. Perbarui setiap kali harga berubah. Cara ini membantu, tapi tabelnya cepat usang saat harga sembako naik-turun.

Cara jual per nominal di KasirPOS

Siapkan produknya

  1. Buat atau edit produk curah dengan satuan kilogram atau liter, misalnya "Beras Medium (kg)".
  2. Isi harga jual per kg atau per liter, misalnya Rp 13.500.
  3. Isi harga modal per kg, misalnya Rp 12.200, supaya laba tetap terhitung.
  4. Isi stok dalam satuan yang sama, misalnya 50 kg untuk satu karung.

Saat melayani pembeli

  1. Pilih produk beras di layar kasir.
  2. Masukkan nominal yang disebut pembeli, misalnya Rp 10.000.
  3. KasirPOS menghitung jumlahnya, yaitu sekitar 0,741 kg. Timbang sesuai angka itu.
  4. Lanjutkan ke pembayaran seperti biasa, dengan tunai, QRIS, atau metode lain.

Hasilnya: penjualan Rp 10.000 tercatat, stok beras berkurang 0,741 kg, dan laba kotor terhitung dari modalnya. Dengan modal Rp 12.200/kg, laba kotor transaksi tadi sekitar Rp 960.

Laba kecil per transaksi ini menumpuk. Misalkan dalam sehari ada 25 pembeli beras per nominal dengan rata-rata Rp 8.000. Itu sekitar 14,8 kg beras dan laba kotor kira-kira Rp 19.000 per hari, atau sekitar Rp 570.000 sebulan hanya dari pembeli eceran beras. Angka seperti ini baru terlihat kalau setiap penjualan per rupiah benar-benar tercatat, bukan dilempar ke item manual tanpa stok.

Kenapa stok tetap akurat

Misalkan satu karung beras 50 kg habis dalam seminggu, sebagian dijual per kg dan sebagian per nominal. Tanpa jual per nominal, kasir sering mencatat penjualan nominal sebagai item manual Rp 10.000 yang tidak memotong stok. Akhirnya aplikasi bilang masih ada 18 kg, padahal karung sudah kosong.

Dengan jual per nominal, setiap penjualan memotong stok dalam kilogram. Kalau di akhir minggu catatan menunjukkan sisa 0,8 kg tapi karung kosong, selisih kecil itu wajar karena susut timbang. Kalau selisihnya 5 kg, ada yang perlu dicek: timbangan, takaran kasir, atau barang tercecer. Bacaan terkait: penyebab stok tidak sesuai.

Soal pembulatan dan timbangan

Timbangan warung biasanya tidak bisa menimbang tepat 741 gram. Wajar kalau hasilnya 740 atau 745 gram. Yang penting, patokannya sama untuk semua kasir, sehingga selisih tidak membesar karena kebiasaan menimbang "lebih sedikit biar senang".

Tips praktis:

Jual per nominal, per kg, atau kemas sendiri?

Ada warung yang memilih mengemas ulang beras dalam plastik 1/2 kg dan 1 kg agar cepat dilayani. Itu juga cara yang baik, terutama di jam ramai. Kombinasi yang sering dipakai:

Strategi menjual beras eceran secara lengkap dibahas di jual beras eceran per kg, dan cara mengatur satuan berbeda untuk satu barang ada di satuan dus, pak, dan pcs.

Catatan: angka harga di artikel ini hanya contoh. Selalu perbarui harga per kg di aplikasi begitu harga beli dari agen berubah, agar perhitungan berat per nominal tetap adil bagi Anda dan pembeli.

Coba di KasirPOS

Jual per nominal adalah salah satu fitur kasir di aplikasi kasir KasirPOS yang dirancang untuk warung sembako dan toko kelontong. Semua fiturnya gratis, bekerja tanpa internet, dan berjalan di iPhone atau iPad dengan iOS 17 ke atas. Belum punya aplikasinya? Unduh KasirPOS di App Store, lalu lihat fitur lengkap KasirPOS untuk stok dan laporan.

Pembeli tetap boleh bilang "beras sepuluh ribu". Bedanya, sekarang Anda tahu persis berapa kilo yang keluar dan berapa yang tersisa di karung.

Pertanyaan yang sering diajukan

Bagaimana menghitung beli beras Rp 10.000 dapat berapa kg?

Bagi nominal dengan harga per kg. Jika harga beras Rp 13.500 per kg, Rp 10.000 setara sekitar 0,741 kg atau 741 gram.

Apa itu fitur jual per nominal di aplikasi kasir?

Fitur yang memungkinkan kasir memasukkan nominal uang yang disebut pembeli, lalu aplikasi menghitung jumlah kg atau liter yang harus diberikan dan memotong stok sesuai jumlah itu.

Kenapa stok barang curah sering tidak cocok?

Biasanya karena penjualan per rupiah dicatat sebagai item manual yang tidak memotong stok, takaran tidak konsisten, atau susut timbang. Mencatat penjualan dalam kg atau liter membantu menemukan selisihnya.

Apakah fitur jual per nominal KasirPOS berbayar?

Tidak. Semua fitur KasirPOS gratis tanpa langganan dan tanpa iklan.