Blog KasirPOSkasirpos.swift.id

Food Cost Percentage: Cara Hitung untuk Warung Makan dan Kedai

Oleh Ihwan · · 5 menit baca

"Belanja ke pasar kok makin besar, padahal yang beli segitu-segitu saja." Kalimat ini sering muncul dari pemilik warung makan, tapi jarang diikuti angka. Tanpa angka, sulit menjawab pertanyaan sederhana: apakah biaya bahan di warung Anda masih wajar, atau ada yang bocor?

Alat ukur paling sederhana untuk itu adalah food cost percentage. Artikel ini menjelaskan cara menghitung food cost per bulan untuk warung makan dan kedai, contoh hitungannya dalam Rupiah, dan cara membaca trennya.

Singkatnya: food cost % = (stok awal + pembelian bahan − stok akhir) ÷ penjualan makanan dan minuman × 100. Hitung setiap bulan dengan cara yang sama. Angka satu bulan saja kurang bermakna; yang penting trennya. Jika persentasenya naik padahal harga jual dan harga bahan tidak berubah, berarti ada yang bocor: porsi melebar, bahan terbuang, atau penjualan tidak tercatat.

Apa itu food cost percentage

Food cost percentage adalah porsi dari setiap Rp 100 penjualan yang habis untuk bahan makanan dan minuman. Jika food cost Anda 35%, artinya dari setiap Rp 100.000 penjualan, Rp 35.000 kembali ke pemasok bahan. Sisanya, Rp 65.000, dipakai untuk gaji, sewa, gas, listrik, kemasan (jika tidak dihitung sebagai bahan), dan laba.

Angka ini berbeda dari HPP per porsi. HPP per porsi adalah hitungan di atas kertas untuk satu menu. Food cost bulanan adalah hasil nyata seluruh dapur, termasuk bahan yang terbuang, porsi yang kebesaran, dan makanan untuk karyawan. Cara menghitung HPP per porsi ada di HPP makanan per porsi dari bahan kiloan.

Rumus dan cara menghitung food cost bulanan

  1. Stok awal bulan: nilai bahan di dapur dan gudang pada hari pertama (jumlah × harga beli).
  2. Pembelian bahan: total nota belanja bahan selama sebulan.
  3. Stok akhir bulan: nilai bahan yang tersisa pada hari terakhir, dihitung dengan stock opname.
  4. Bahan terpakai = stok awal + pembelian − stok akhir.
  5. Food cost % = bahan terpakai ÷ penjualan makanan dan minuman × 100.

Contoh warung makan bulan Agustus (angka ilustrasi):

KomponenNilai
Stok awal 1 AgustusRp 3.200.000
Pembelian bahan selama AgustusRp 18.500.000
Stok akhir 31 AgustusRp 2.700.000
Bahan terpakaiRp 19.000.000
Penjualan makanan dan minumanRp 52.000.000
Food cost %36,5%

Kesalahan yang paling sering terjadi adalah langsung membagi pembelian dengan penjualan (Rp 18.500.000 ÷ Rp 52.000.000 = 35,6%). Cara itu mengabaikan perubahan stok, sehingga bulan saat Anda belanja banyak untuk persediaan akan terlihat buruk, dan bulan saat stok dihabiskan terlihat bagus padahal tidak ada yang berubah.

Catatan: yang dimasukkan hanya bahan makanan dan minuman. Gas, sabun cuci piring, dan gaji tidak masuk food cost. Kemasan boleh dimasukkan atau dipisah, asalkan konsisten setiap bulan.

Berapa food cost yang wajar?

Banyak pelaku usaha kuliner memakai kisaran 30–40% sebagai patokan awal, tapi angka wajar sangat bergantung pada jenis usaha. Warung yang menjual nasi dengan lauk berbasis ayam dan daging biasanya punya food cost lebih tinggi daripada kedai minuman. Usaha dengan sewa murah dan pemilik yang turun tangan sendiri bisa bertahan dengan food cost lebih tinggi daripada usaha dengan sewa mahal dan banyak karyawan.

Daripada mengejar angka ideal dari luar, lebih berguna membandingkan angka Anda bulan ini dengan bulan-bulan sebelumnya. Bila Anda ingin melihat gabungan biaya bahan dan biaya tenaga kerja, baca prime cost usaha kuliner.

Membaca tren: naik berarti ada yang bocor

BulanBahan terpakaiPenjualanFood cost %
MeiRp 17.400.000Rp 50.000.00034,8%
JuniRp 17.950.000Rp 51.000.00035,2%
JuliRp 18.250.000Rp 50.000.00036,5%
AgustusRp 19.000.000Rp 52.000.00036,5%
SeptemberRp 19.940.000Rp 51.000.00039,1%

Penjualan relatif stabil, tapi food cost merangkak dari 34,8% ke 39,1%. Pada penjualan Rp 51.000.000, selisih 4,3 poin persen itu sekitar Rp 2.190.000 sebulan yang hilang dari laba. Saat melihat tren seperti ini, cek kemungkinan penyebabnya satu per satu:

Untuk memisahkan kebocoran dari perubahan menu, bandingkan food cost aktual dengan food cost ideal (berdasarkan resep dan jumlah porsi terjual). Pembahasannya ada di food cost aktual vs ideal.

Kebiasaan kecil agar angkanya akurat

Mempermudah hitungan food cost dengan KasirPOS

Bagian tersulit dari food cost adalah stok awal dan stok akhir. Aplikasi kasir dan stok KasirPOS untuk iPhone dan iPad membantu di bagian ini:

Dari laporan itu Anda bisa memasukkan angka penjualan dan nilai stok ke rumus di atas. Jika hasil opname jauh di bawah stok di aplikasi, itulah tanda kebocoran yang perlu ditelusuri.

Semua fitur ini gratis, tanpa langganan, dan berjalan offline. Unduh KasirPOS di App Store dan mulai dengan mencatat stok awal pada tanggal 1 bulan depan. Panduan lainnya ada di situs KasirPOS.

Pertanyaan yang sering diajukan

Bagaimana rumus food cost percentage?

Food cost persen sama dengan stok awal ditambah pembelian bahan dikurangi stok akhir, lalu dibagi penjualan makanan dan minuman dan dikali 100.

Berapa food cost yang ideal untuk warung makan?

Banyak usaha kuliner memakai kisaran 30 sampai 40 persen sebagai patokan awal, tetapi angka wajar tergantung jenis menu dan biaya lain. Yang lebih penting adalah memantau tren angka Anda sendiri.

Apa penyebab food cost naik?

Biasanya harga bahan naik tanpa penyesuaian harga jual, porsi melebar, bahan terbuang, penjualan tidak tercatat, atau pelanggan beralih ke menu yang biaya bahannya lebih tinggi.

Apakah gas dan gaji masuk food cost?

Tidak. Food cost hanya menghitung bahan makanan dan minuman. Gas, listrik, dan gaji dicatat sebagai biaya operasional.