Kalau ditanya "barang apa yang paling menghidupi toko Anda?", kebanyakan pemilik toko kelontong akan menjawab dengan perasaan: "kayaknya rokok", atau "sembako, pasti". Jawaban itu bisa benar, bisa juga meleset jauh. Akibatnya rak terbaik dekat pintu diisi barang yang ramai tapi untungnya tipis, sementara kategori yang diam-diam memberi laba besar justru ditaruh di pojok dan sering kehabisan.
Analisis penjualan per kategori menjawab pertanyaan itu dengan angka. Anda tidak melihat ratusan barang satu per satu, tapi mengelompokkannya menjadi beberapa kategori lalu membandingkan dua hal: porsi omzet dan porsi laba.
Singkatnya: kelompokkan barang ke 6–10 kategori, lalu hitung berapa persen omzet dan berapa persen laba kotor yang disumbang tiap kategori dalam sebulan. Kategori yang porsi labanya lebih besar dari porsi omzetnya adalah "penghidup" toko dan layak mendapat rak, perhatian, dan modal lebih.
Kenapa dilihat per kategori, bukan per barang
Melihat per barang itu penting, tapi melelahkan. Toko kelontong bisa punya 400 jenis barang, dan setiap merek sabun atau mi instan punya cerita sendiri. Melihat per kategori memberi gambaran besar dulu: bagian mana dari toko yang menghasilkan uang, dan bagian mana yang hanya meramaikan rak. Setelah itu, baru Anda menyelam ke barang tertentu di kategori yang menarik.
Keputusan yang paling sering dibantu oleh analisis ini:
- Kategori mana yang dapat rak depan, rak setinggi mata, atau kulkas tambahan.
- Ke mana modal kulakan tambahan sebaiknya diarahkan.
- Kategori mana yang perlu dirampingkan pilihan mereknya.
Menyusun kategori yang berguna
Kategori yang terlalu umum ("makanan") tidak memberi petunjuk; yang terlalu detail ("mi goreng rasa ayam") jadi seperti daftar barang lagi. Untuk toko kelontong, contoh pembagian yang cukup praktis:
- Beras, minyak, gula, tepung (sembako utama)
- Telur dan bahan segar
- Mi instan dan makanan kemasan
- Minuman (dingin dan kemasan)
- Rokok
- Jajanan dan snack anak
- Sabun, deterjen, perawatan diri
- Bumbu dapur dan kebutuhan masak kecil
Prinsipnya, satu kategori berisi barang yang diatur dengan cara serupa: dari supplier yang mirip, dengan pola laku yang mirip, dan dipajang di area yang sama.
Contoh analisis penjualan per kategori
Data sebulan dari toko kelontong (contoh karangan) dengan omzet Rp 60 juta:
| Kategori | Omzet | % omzet | Laba kotor | % laba |
|---|---|---|---|---|
| Sembako utama | Rp 18.000.000 | 30% | Rp 1.440.000 | 21% |
| Rokok | Rp 15.000.000 | 25% | Rp 900.000 | 13% |
| Minuman | Rp 7.800.000 | 13% | Rp 1.404.000 | 21% |
| Mi & makanan kemasan | Rp 6.600.000 | 11% | Rp 792.000 | 12% |
| Jajanan anak | Rp 4.200.000 | 7% | Rp 1.008.000 | 15% |
| Sabun & perawatan | Rp 4.800.000 | 8% | Rp 720.000 | 11% |
| Bumbu dapur | Rp 3.600.000 | 6% | Rp 540.000 | 8% |
| Total | Rp 60.000.000 | 100% | Rp 6.804.000 | 100% |
Persentase dibulatkan, jadi jumlahnya bisa sedikit meleset dari 100%. Cara membacanya: bandingkan kolom % omzet dengan % laba.
- Rokok: seperempat omzet, tapi hanya 13% laba. Ia meramaikan transaksi, tapi tidak menghidupi toko.
- Sembako utama: porsi laba lebih kecil dari porsi omzet, tapi masih penyumbang laba terbesar bersama minuman. Ini kategori penarik pembeli sekaligus tulang punggung.
- Minuman: hanya 13% omzet, tapi 21% laba. Inilah penghidup yang sering diremehkan.
- Jajanan anak: 7% omzet, 15% laba. Marginnya tebal, cocok untuk ditata di tempat yang terlihat anak-anak dan orang tua.
Catatan: jangan langsung berhenti menjual kategori dengan porsi laba kecil. Rokok dan sembako membawa pembeli masuk; tanpa mereka, minuman dan jajanan mungkin ikut turun. Yang diubah adalah perhatian dan modal tambahan, bukan menghapus kategori.
Dari angka ke tindakan
Tata ulang rak
Kategori dengan porsi laba besar layak mendapat lokasi terbaik: dekat kasir, setinggi mata, atau di jalur yang pasti dilewati pembeli. Contoh di atas menyarankan kulkas minuman dipindah ke dekat pintu dan jajanan anak dekat meja kasir. Ide penataan lain ada di cara menata warung sembako.
Arahkan modal tambahan
Saat ada uang lebih untuk kulakan, tambahkan variasi di kategori penghidup lebih dulu, misalnya varian minuman yang belum ada, bukan menambah merek rokok kelima. Untuk memilih barang tertentu di dalam kategori, lanjutkan ke artikel produk paling menguntungkan.
Rampingkan kategori yang berat modal
Kategori dengan omzet besar tapi laba kecil biasanya juga butuh modal besar. Jaga stoknya cukup, jangan berlebihan, supaya modal tidak tertahan di sana.
Bandingkan dari bulan ke bulan
Porsi kategori bergeser mengikuti musim. Menjelang Lebaran, sembako dan sirup melonjak; saat musim hujan, minuman dingin melemah; di awal tahun ajaran, jajanan anak dan alat tulis naik. Simpan tabel tiap bulan dan bandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu jika ada, supaya Anda tidak salah membaca perubahan musiman sebagai tren.
Cara mengumpulkan datanya
Secara manual, analisis ini butuh catatan penjualan yang menyebut kategori dan harga modal setiap barang. Di buku tulis, ini hampir mustahil kecuali Anda menulis setiap item. Di Excel, Anda perlu daftar barang dengan kolom kategori dan harga beli, lalu memasukkan penjualan per barang.
Dengan aplikasi kasir KasirPOS, setiap produk sudah punya kategori, dan setiap transaksi tercatat bersama harga modalnya. Laporan penjualan per kategori, laba kotor, dan margin per produk tersedia untuk harian, mingguan, maupun bulanan, dan bisa diekspor ke Excel atau PDF A4. Urutan kategori di layar kasir juga bisa diatur, sehingga kategori andalan muncul paling atas saat Anda melayani pembeli.
- Rapikan kategori produk sesuai pembagian di atas. Jika daftar produk masih berantakan, Anda bisa mengimpor ulang dari Excel dengan templatenya.
- Pastikan harga modal tiap barang terisi, atau catat kulakan sebagai pembelian supplier agar harga modal diperbarui otomatis.
- Setelah sebulan berjualan, buka laporan per kategori dan bandingkan porsi omzet dengan porsi laba.
Penjelasan laporan lainnya ada di situs fitur lengkap KasirPOS. Aplikasinya gratis tanpa langganan untuk iPhone dan iPad; unduh KasirPOS di App Store. Untuk membaca laporan bulanan secara lebih menyeluruh, lihat juga cara menganalisis laporan penjualan bulanan.
Kesimpulan
Kategori yang paling ramai belum tentu yang menghidupi toko. Bandingkan porsi omzet dengan porsi laba setiap bulan, lalu berikan rak, perhatian, dan modal lebih kepada kategori yang labanya besar. Perubahan kecil seperti memindahkan kulkas atau menambah varian jajanan bisa terasa di laba bulan depan, tanpa harus menambah jumlah pembeli. Jika Anda masih bingung membedakan keduanya, baca dulu perbedaan omzet dan laba.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa manfaat analisis penjualan per kategori?
Analisis ini menunjukkan bagian toko mana yang menghasilkan omzet dan laba terbesar. Hasilnya dipakai untuk menata rak, mengarahkan modal kulakan, dan merampingkan kategori yang berat modal.
Berapa jumlah kategori yang ideal untuk warung?
Sekitar enam sampai sepuluh kategori biasanya cukup. Terlalu sedikit membuat gambaran kabur, terlalu banyak membuatnya seperti daftar barang lagi.
Apa bedanya porsi omzet dan porsi laba?
Porsi omzet adalah persentase penjualan yang disumbang suatu kategori, sedangkan porsi laba adalah persentase laba kotornya. Kategori yang porsi labanya lebih besar dari porsi omzet berarti marginnya lebih tebal dari rata-rata toko.
Apakah kategori dengan laba kecil sebaiknya dihapus?
Tidak selalu. Kategori seperti rokok dan sembako sering menjadi alasan pembeli datang, sehingga tetap perlu ada, cukup stoknya dijaga agar tidak berlebihan.