Blog KasirPOSkasirpos.swift.id

Jual Rokok di Warung: Untung Tipis, Masih Perlu atau Tidak?

Oleh Ihwan · · 5 menit baca

Setiap kali kulakan, uang paling banyak justru keluar untuk rokok: beberapa slop saja sudah menghabiskan jutaan rupiah. Tapi saat dihitung, untung per bungkus hanya seribu dua ribu rupiah. Wajar kalau Anda bertanya, apa gunanya menahan modal sebesar itu untuk margin setipis ini? Pertanyaan soal keuntungan jual rokok di warung tidak bisa dijawab dengan melihat margin saja. Anda perlu melihat seberapa cepat rokok berputar, dan apa yang ikut dibeli orang yang datang untuk rokok.

Singkatnya: Margin rokok memang kecil, dalam contoh di artikel ini hanya sekitar 4–6% dari harga jual, tetapi perputarannya cepat dan pembeli rokok sering membeli barang lain. Rokok layak dipertahankan sebagai penarik pembeli, asal modal yang terikat dibatasi: pilih merek yang benar-benar laku, kulakan sesuai perputaran, dan awasi stoknya karena rokok mudah hilang.

Hitung dulu margin rokok yang sebenarnya

Contoh tiga merek dengan angka karangan (harga di warung Anda pasti berbeda):

Merek (contoh)Modal per bungkusHarga jualUntungMargin dari harga jual
Merek ARp 31.000Rp 33.000Rp 2.000± 6,1%
Merek BRp 24.500Rp 26.000Rp 1.500± 5,8%
Merek CRp 19.200Rp 20.000Rp 800± 4,0%

Bandingkan dengan barang lain di warung: minuman dingin atau makanan ringan, misalnya, bisa saja bermargin 15–25% di warung Anda. Dilihat dari margin saja, rokok memang termasuk barang paling tipis.

Tapi rokok berputar sangat cepat

Margin kecil bisa tetap menghasilkan untung lumayan kalau barangnya cepat habis dan cepat dibeli ulang. Ini yang disebut perputaran stok. Contoh untuk Merek A:

UkuranRokok Merek ABiskuit kemasan
Modal yang tertahan di rakRp 620.000 (2 slop)Rp 620.000
Margin dari harga jual± 6,1%± 20%
Berapa kali stok habis dan diisi ulang per bulan8 kali1 kali
Untung kotor sebulan (perkiraan)± Rp 320.000± Rp 155.000

Dengan modal tertahan yang sama, rokok yang habis setiap 3–4 hari bisa menghasilkan untung kotor lebih besar daripada biskuit bermargin tinggi yang baru habis sebulan sekali. Konsep ini dijelaskan di cara menghitung perputaran stok dan dihitung lebih tajam lewat GMROI untuk warung.

Kuncinya ada di kata "yang benar-benar laku". Merek yang hanya terjual satu bungkus seminggu punya margin tipis dan perputaran lambat; itu kombinasi terburuk.

Efek ke pembelian barang lain

Orang yang datang membeli rokok sering sekaligus mengambil kopi sachet, air mineral, korek, permen atau makanan ringan. Pembeli tetap yang setiap pagi mampir untuk rokok juga cenderung membeli kebutuhan rumah di tempat yang sama. Kalau warung Anda tidak menjual rokok, sebagian pembeli ini mungkin pindah ke warung yang menjual, dan belanja lain ikut pindah.

Cara sederhana mengujinya: selama dua minggu, perhatikan transaksi yang berisi rokok. Berapa rupiah barang lain yang ikut dibeli? Kalau rata-rata ada tambahan Rp 6.000–8.000 dengan margin lebih tebal, untung dari "barang ikutan" itu bisa melebihi untung rokoknya sendiri.

Batasi modal yang terikat di rokok

Masalah utama rokok bukan marginnya, tetapi modalnya yang besar. Kalau rokok menyedot sebagian besar modal kerja, warung bisa kekurangan uang untuk barang lain yang lebih menguntungkan. Beberapa cara membatasinya:

  1. Pegang merek inti saja. Pilih merek yang paling sering diminta di lingkungan Anda. Merek yang jarang diminta cukup satu atau dua bungkus, atau tidak usah.
  2. Kulakan sesuai perputaran. Kalau Merek A habis sekitar 4 slop per minggu seperti contoh di atas, stok 2 slop yang diisi ulang dua kali seminggu sudah cukup; tidak perlu 10 slop karena ada promo kecil.
  3. Tetapkan batas porsi modal. Misalnya, nilai stok rokok tidak boleh melebihi sepertiga nilai seluruh stok warung. Cara menghitung kebutuhan modal kerja ada di modal kerja toko kelontong.
  4. Jangan beri kasbon untuk rokok, atau batasi ketat. Margin tipis tidak sebanding dengan risiko utang yang tidak kembali.
  5. Simpan di tempat terjangkau penjual, bukan pembeli. Rokok kecil, mahal, dan mudah diselipkan. Kehilangan satu bungkus menghapus untung belasan bungkus lainnya. Lihat juga mencegah barang hilang di toko.

Catatan: Penjualan rokok diatur pemerintah, termasuk batas usia pembeli dan larangan menjual secara eceran per batang menurut peraturan yang terbit tahun 2024. Pemerintah daerah juga bisa punya aturan tambahan. Pastikan Anda mengikuti ketentuan terbaru dari sumber resmi.

Kapan sebaiknya mengurangi atau menambah merek

Daftar merek rokok di warung sering bertambah karena satu dua pembeli meminta merek tertentu. Lama-lama ada belasan merek di etalase, sebagian hanya terjual sebulan sekali. Tinjau daftarnya setiap beberapa bulan dengan pertanyaan sederhana:

Mengurangi tiga merek yang lambat bisa membebaskan ratusan ribu rupiah modal untuk barang lain yang lebih cepat berputar atau bermargin lebih tebal. Lihat juga cara aplikasi membantu membaca data penjualan per produk di situs aplikasi kasir KasirPOS.

Mengukur keuntungan jual rokok di warung Anda sendiri

Angka di atas hanyalah contoh. Untuk memutuskan dengan yakin, Anda perlu angka warung sendiri: margin per merek, berapa bungkus terjual per minggu, dan berapa stok yang tertahan. Kalau Anda memakai iPhone atau iPad, aplikasi kasir KasirPOS menyediakan data ini tanpa hitungan manual:

Setelah sebulan, bandingkan rokok dengan barang lain lewat panduan menemukan produk paling menguntungkan. Semua fitur KasirPOS gratis, tanpa langganan dan tanpa internet, khusus untuk iPhone dan iPad (iOS 17 ke atas). Unduh KasirPOS di App Store kalau ingin mulai mengukurnya.

Kesimpulan: perlu, tapi dengan batas

Untuk sebagian besar warung, rokok tetap layak dijual karena perputarannya cepat dan menarik pembeli yang belanja barang lain. Yang perlu dihindari adalah membiarkan rokok menghabiskan modal: pegang merek yang laku, kulakan sesuai kecepatan habisnya, awasi stoknya, dan ukur hasilnya dengan angka warung Anda sendiri.

Pertanyaan yang sering diajukan

Berapa keuntungan jual rokok per bungkus di warung?

Biasanya tipis, misalnya seribu sampai dua ribu rupiah per bungkus dalam contoh hitungan artikel ini, atau sekitar 4 sampai 6 persen dari harga jual. Angka sebenarnya tergantung merek dan harga kulakan Anda.

Kenapa warung tetap menjual rokok meski untungnya tipis?

Karena rokok cepat berputar dan pembeli rokok sering ikut membeli barang lain seperti kopi, air mineral atau makanan ringan.

Berapa stok rokok yang ideal untuk warung kecil?

Sesuaikan dengan kecepatan habisnya. Simpan stok untuk beberapa hari sampai seminggu bagi merek yang laku, dan batasi merek yang jarang diminta.

Apakah boleh menjual rokok ketengan per batang?

Peraturan pemerintah yang terbit tahun 2024 melarang penjualan rokok eceran per batang dan mengatur batas usia pembeli. Cek ketentuan terbaru dari sumber resmi dan aturan daerah Anda.