Anda melihat minimarket memasang harga Rp 9.900, Rp 14.900, atau Rp 24.900, lalu bertanya-tanya: apakah warung saya juga perlu begitu? Begitu dicoba, muncul masalah baru. Pembeli membayar dengan selembar Rp 10.000, dan Anda tidak punya koin Rp 100 untuk kembalian. Akhirnya kembalian diganti permen, atau Rp 100 itu "direlakan" tanpa jelas siapa yang rugi.
Harga psikologis, yaitu harga yang dibuat sedikit di bawah angka bulat, memang punya alasan. Tapi warung dan kedai yang sebagian besar transaksinya tunai punya kondisi yang berbeda dengan jaringan minimarket. Artikel ini membahas kelebihan dan kekurangannya, lalu membantu Anda memilih.
Singkatnya: harga seperti Rp 9.900 bisa membuat barang terasa lebih murah, terutama di daftar harga dan katalog. Namun di warung yang banyak bayar tunai, harga ganjil sering merepotkan karena butuh koin kecil, memperlambat antrean, dan memicu kembalian permen. Untuk transaksi tunai, harga bulat kelipatan Rp 500 atau Rp 1.000 sering lebih praktis.
Apa itu harga psikologis
Harga psikologis adalah teknik menetapkan harga sedikit di bawah angka bulat, misalnya Rp 9.900 alih-alih Rp 10.000, atau Rp 49.000 alih-alih Rp 50.000. Gagasannya, mata pembeli membaca angka depan lebih dulu. "Sembilan ribuan" terasa masuk golongan lebih murah dibanding "sepuluh ribu", meskipun selisihnya hanya Rp 100.
Ada beberapa variasi yang umum dipakai:
- Akhiran 900 atau 990: Rp 4.900, Rp 19.990.
- Akhiran 500: Rp 7.500, Rp 12.500. Masih terasa "di bawah", tapi lebih mudah untuk kembalian.
- Turun satu ribuan: Rp 49.000, Rp 99.000. Banyak dipakai untuk barang yang lebih mahal seperti pakaian.
Kelebihan harga ganjil
- Terlihat lebih murah di daftar harga. Di papan menu, label rak, atau katalog WhatsApp, Rp 14.900 terkesan masuk kelompok "belasan ribu".
- Memberi kesan harga sudah dihitung cermat. Sebagian pembeli merasa harga ganjil adalah harga yang sudah ditekan, bukan dibulatkan ke atas.
- Cocok untuk pembayaran non-tunai. Untuk QRIS, transfer, atau e-wallet, nominal Rp 14.900 tidak menimbulkan masalah kembalian sama sekali.
Kekurangan di warung yang banyak bayar tunai
Masalah kembalian Rp 100 dan Rp 200
Koin kecil sering sulit didapat dan pembeli pun jarang membawanya. Akibatnya ada tiga kemungkinan, dan semuanya kurang baik:
- Kembalian diganti permen. Sebagian pembeli tidak keberatan, sebagian merasa dirugikan. Stok permen Anda juga jadi berantakan karena keluar tanpa tercatat.
- Kembalian dibulatkan ke bawah dan toko yang menanggung. Rp 100 per transaksi terlihat kecil, tapi coba hitung contoh berikut.
- Kembalian dibulatkan ke atas dan pembeli yang menanggung. Ini merusak kepercayaan, apalagi jika pembeli merasa harga ganjil itu "jebakan".
Contoh hitungan kecil yang menumpuk
Misalkan (angka ilustrasi) warung Anda melayani 120 transaksi tunai sehari, dan separuhnya melibatkan barang berharga ganjil yang kembaliannya Anda bulatkan ke bawah rata-rata Rp 150.
| Periode | Perhitungan | Untung yang hilang |
|---|---|---|
| Per hari | 60 × Rp 150 | Rp 9.000 |
| Per bulan (30 hari) | Rp 9.000 × 30 | Rp 270.000 |
| Per tahun | Rp 270.000 × 12 | Rp 3.240.000 |
Uang ini juga akan muncul sebagai selisih laci yang membingungkan saat tutup toko, kalau tidak dicatat dengan benar.
Antrean melambat
Menghitung Rp 9.900 + Rp 4.900 + Rp 2.400 di kepala lebih lambat dibanding Rp 10.000 + Rp 5.000 + Rp 2.500. Saat jam ramai, beberapa detik per transaksi itu terasa di panjang antrean.
Jadi, harga psikologis cocok untuk siapa?
| Kondisi | Saran |
|---|---|
| Warung sembako, mayoritas tunai, belanja kecil | Harga bulat kelipatan Rp 500 atau Rp 1.000 |
| Kedai kopi atau warung makan, campuran tunai dan QRIS | Akhiran 000 atau 500; hindari 900 |
| Toko baju, aksesoris, kosmetik dengan harga puluhan ribu ke atas | Turun seribu (Rp 49.000, Rp 99.000) cukup efektif dan tetap mudah dikembalikan |
| Jualan lewat WhatsApp dengan pembayaran transfer | Harga ganjil tidak masalah |
Kompromi yang sering paling enak: pakai akhiran Rp 500. Rp 9.500 tetap terasa "sembilan ribuan", dan koin atau uang Rp 500 jauh lebih mudah didapat dibanding Rp 100. Cara menetapkan angka dasarnya sebelum dibulatkan ada di cara menentukan harga jual barang.
Catatan: apa pun pilihan Anda, buat konsisten. Satu rak dengan campuran Rp 9.900, Rp 10.000, dan Rp 9.750 justru terlihat berantakan dan menyulitkan kasir.
Kalau tetap memakai harga ganjil: atur pembulatan dengan jujur
Ada kalanya harga ganjil tidak bisa dihindari, misalnya karena ada pajak atau service charge, atau harga per kilo yang menghasilkan angka seperti Rp 13.650. Dalam kasus ini, buat aturan pembulatan yang jelas dan terbuka. Pembahasan lengkapnya ada di pembulatan harga di kasir.
Di aplikasi kasir KasirPOS, pembulatan total bisa diatur di pengaturan, sama seperti pajak dan service charge. Dengan begitu, total yang tampil di layar bayar dan di struk sudah bulat, kembalian dihitung otomatis dari tombol uang cepat, dan pembeli melihat angka yang sama dengan yang Anda minta. Tidak ada lagi kembalian permen yang tidak tercatat.
- Untuk pembayaran QRIS atau transfer, catat metode bayarnya agar nominal di laporan cocok dengan uang yang masuk ke rekening.
- Untuk pembayaran campuran, misalnya sebagian tunai dan sebagian QRIS, KasirPOS bisa membagi pembayaran ke beberapa metode sekaligus. Lihat pembayaran campuran tunai dan QRIS.
Uji sendiri, jangan hanya ikut-ikutan
Tidak ada jawaban yang berlaku untuk semua toko. Kalau penasaran, coba selama dua sampai empat minggu pada beberapa barang saja, misalnya lima produk jajanan dengan harga Rp 4.900 dibanding Rp 5.000. Bandingkan jumlah terjual sebelum dan sesudahnya di laporan produk terlaris, dan perhatikan keluhan soal kembalian. Jika penjualan tidak berubah tapi kasir lebih repot, kembali ke harga bulat.
Harga yang baik adalah harga yang membuat pembeli nyaman dan kasir cepat. Di warung yang hidup dari uang tunai, harga bulat sering kali pilihan paling praktis. Untuk mencatat penjualan, pembulatan, dan metode bayar dengan rapi tanpa biaya langganan, unduh KasirPOS di App Store. Ingin tahu dulu fitur lainnya? Lihat aplikasi kasir gratis untuk iPhone dan iPad ini di situs resminya.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa itu harga psikologis?
Harga psikologis adalah harga yang dibuat sedikit di bawah angka bulat, misalnya Rp 9.900 atau Rp 49.000, agar barang terasa masuk kelompok harga yang lebih murah.
Apakah harga Rp 9.900 cocok untuk warung?
Sering kurang cocok jika pembeli kebanyakan bayar tunai, karena butuh kembalian Rp 100 yang sulit didapat. Akhiran Rp 500 atau harga bulat biasanya lebih praktis.
Bolehkah kembalian kecil diganti permen?
Sebaiknya dihindari karena sebagian pembeli merasa dirugikan dan stok permen keluar tanpa tercatat. Lebih baik pakai harga bulat atau aturan pembulatan yang jelas.
Kapan harga ganjil tetap masuk akal?
Untuk pembayaran non-tunai seperti QRIS dan transfer, katalog online, serta barang dengan harga puluhan ribu ke atas yang memakai pola turun seribu seperti Rp 99.000.